Minggu, 04 Oktober 2009

Deti Viesta Napsiah Gathering Comment


Iwan Sams:
Wah tadi malam acaranya rame banget. Luar biasa dan bikin ketagihan, hahahaha.

Acara ini juga pisah-sambut buat Deti Nafsiah yang tampil sbg bintang tamu yang heboh.

Pesertanya, tak kurang dari 25 orang. Dan banyak muka baru nongol. Misalnya Taufik Sawangan, Eko Wilasmono dan Eka (Sos-2).

Yuddy Setyo, Rahmat Ijo, Imam Wur juga hadir. Dan ikut menyanyi.

Hebat. Top.

Alfina batal hadir karena sedang tak enak badan, tetapi kehadiran Tjatur tanpa mas Sugeng nya bikin surprise.

Bayu datang dengan video camera dan aksi nyanyi kita akan didokumentasikan, pokoknya joss lah.

Acara dimulai jam 7 malam dan selesai jam 10.30 malam. Pakai perpanjangan waktu, hehehehe ...

Saksikan foto2nya yang akan diupload oleh masing2 teman yang bawa kamera.

Tjatur Yuliastuti :

Waduh...kirain yg ketagihan cuma aku aja Wan....he he he. Kalo gak diobatin ketagihannya bisa bahaya...pulang tengah malam,apa kata tetangga ya? Habis enak sih ketemu temen2 SMA, berasa muda lagi...apalagi kalo udah nyanyi sambil joged...waduh sampe pd lupa udah pada punya keluarga (anak istri/suami) .
Jujur....aku seneng ngumpul kayak semalam,cuma pulangnya jadi larut bgt ya....
Makasih ya buat temen2 yg sdh membuat diriku bahagia...cie cie cie
Ayo kapan ngumpul lagi...??? he he he he...

Kadar Yuniarto :
wah cepet banget laporannya.. . jadwal molor sampai jam 10.00 ..... kok bisa sampai rumah jam 12.00 ?

Tjatur Yuliastuti :

Kang Kadar,...molor 30 menit (sp jam 22.00) ternyata belum membuat warga Deltu puas,...jd panityanya minta perpanjangan waktu 30 menit lagi...jam 22.30 baru resmi bubar tp msh ada acara foto2 bareng dan salam2an...lokasi ngumpul kan di kuningan.... lha rmhku kan di Ndepok...jd ngebut sampe rmh jam 23.55...nyaris dini hari ya...

Pak Bos Tartum, kalo yg pake service penari2 begitu udah level2 yg tingkat bos spt sampeyanlah. ..kl level pemula kyk aku seperti acara td mlm aja udah seru bgt....
Kalo ada penari begituannya. ..bpknya seger...ibunya nyesek he he he

Iwan Sams :

Terasa sekali teman2 yang hadir kemarin merasa berat untuk mengakhiri acara tersebut. Boleh deh diulangi lagi kapan-kapan kalau pas ada waktu dan kesempatan, tapi jangan sering-sering ya? Hahahaha ....

Soalnya biayanya lumayan mahal. Tapi untunglah karena biaya ditanggung gotong royong sehingga tak terasa berat, bahkan masih menyisakan uang kas sebesar Rp 500 ribu.

Insya Allah akhir tahun nanti kita akan menggelar Family Gathering Jilid 2 dengan tema Cinta Alam. Kita perkenalkan anak2 Deltu Club dengan kegiatan2 alam seperti hiking, rafting di sungai dan hill climbing.

Kita upayakan bisa diselenggarakan pas liburan sekolah utk anak-anak, dan kita semua bisa mengambil cuti dua hari di akhir pekan utk keperluan itu.

Cerita tentang karaoke lainnya bisa disampaikan oleh kawan2 lainnya.

Deti Napsiah :

Hallo semuanya,

Aku baru saja masuk rumah, xixiixi..... .
lumayan capai karena kebanyakan duduk, aku berdoa terus dijalan sampai badan gatal-gatal, semoga koperku ngga dibuka karena beratnya over sampai kedenda ( karena matanya ijo kalau liat makanan indo), dan ngga umum yang dibawa dari kencur sampai bandeng yang semua ngga boleh nyebrang ke amrik,
sampai di airport ngantri panjang tapi ngga sepanjang yg visitor, untuk citizen dikasih cepat banget dan ternyata.... .......? untuk citizen & koperku tidak tersentuh oleh penjaga
iya tu acaranya bagus tu di inul kemaren, terima kasih buat panitia Iwan, Bayu, Ani semua panitia.
ternyata pada pinter2 nyanyi ya, tidak disangka
kapan lagi tu yang lain ngadain acara itu, bagus ko pada ngumpul membaur
ok deh nanti dilanjut lagi,
sekali lagi terima kasih untuk semuanya !!!!
sampai ketemu lagi lain waktu

R Taufik Hidayat
(belum jadi anggota milis, dia ungkapkan perasaannya melalui facebook) :
Ketemu kanca lawas wis 30th-nan ora ketemu...seneng/lucu/gila kelakuane isih spt yg dulu...emut...emut...wis pd tuwa...isin karo anak...!

Nuriana Budi Cahyani
(komentar di status Taufik) :
Kuwe sing marekna awet nom Pik.....
ora papa lah nggo lucu2an......

Ellie Sacharina Dewi
(komentar di Status Iwan Sams) :
Aku diundang ya, klo ada acara seperti itu lagi... ( Hee. kmrn msh malu2 nyanyi, ntar lama2 malu2in yak..). Pokoknya aku n Tjatur pasti datang deh... hahaha..ya gak Tjatur??? yuukk... reunian lagi... Tp jgn malam2 pulangnya...

Rahayu Widyastuti :

halal bihalal plus plus ya bu dok....plus shopping....plus ngrumpi...plus....plus....mahal dong !!

Nina Indrayani :

Aku nyesel loh ga bs dateng,anakku yg kcl ga mau ditinggal krn ujan deras..hayo lg dok...

Wikan Wiratsongko :

halo juga,
wuihhh cepat juga ya sampainya Deti.., gak pake macet2 seperti di Pantura..
yap, seperti kesan yang diceritakan teman2 lain, acara karaoke malam itu benar2 mantafff, aku sama Iwan sempat nyeletuk: "Wan, Adjib bisa nangis nih kalo tau acaranya seramai ini...hihihi. ."

yang pasti semua dapat giliran nyanyi. buat aku sih prinsipnya : Nyanyi gak masalah..., yang masalah itu yang denger... (?)
mau fals, mau sumbang, mau gombloh..pokoke nekat aja.., yang penting hepi.. nggih boten..?
dari lagunya Ebiet, Broery, Farid Harja, Meggy Z sampai lagunya Naff, semuanya disikat sama teman2..

lomba nyanyi antar jurusan juga gak kalah seru, kalo gak salah yg menang anak Fis ya..? hadiahnya belum dapat nih dari panitia, cuma sayang remote controlnya agak masalah ya, atau karena kita gak bisa pakainya..hahaha. .

si Eko rada gelo, udah latihan nyanyi keroncong, tapi gak ada di daftar lagu..

sori banget fotonya ketinggalan di rumah, jadi belum bisa ditampilken. .,

Anggota Deltu Ketangkap Paparazzi di Reuni SMP2 Pwt












Beberapa alumni SMA 2 Pwt tahun 1987 yang saat reuni tahun 2008 tidak bisa hadir antara lain :
Agung Sugianto Fis 2
Andang Taruna Bio2
Andriyanto Fis 1
Brilianto Fis 2
Dety Napsiah Sos 4
Hardiyanto Fis 2
Hery Setyono Fis 3
Irianto Fis 2
Ipung Bio 3
Widiyoko Fis 2
Agus Puryono Bio 3
Foto diambil pada saat reuni SMP 2 Pwt tanggal 25 September 2009.
Siapa tahu di tengah jalan bertemu dengan mereka . . . . .

Deti Napsiah, from California to Purwokerto


Luar biasa kawan kita yang satu ini. Mudiknya mungkin jadi pemecah rekor, 17 jam di atas pesawat, dari California ke Jakarta, transit di Bangkok. Belum lagi jalan daratnya ke Purwokerto.

Beberapa kawan kita beruntung ketemu ybs saat malam takbiran kemaren di Cafe Meteor. Dari kiri ke kanan, Nining Lurah, Nina, Kun Ani Ratih, Deti Napsiah

(Diambil dari postingan Kun Ani Ratih melalui milis deltu-club@yahoogroups.com)

Senin, 07 September 2009

SMA Negeri 2 Purwokerto: Mungkin Memang Penuh Hantu




Cukup sering muncul dalam banyak kesempatan, terutama saat kita nongkrong dalam suasana malam tertentu, yang kemudian kita mengkategorikannya sebagai ‘crita-crita medeni’ (serem). Walaupun itu kisah-kisah medeni boleh dibilang hanya milik masa remaja saja, tapi ada beberapa subyek yang kemudian menjadi cukup menarik buat aku untuk membuat suatu riset pribadi othak-athik gathuk yang barangkali mampu memberi penjelasan, sedikit atau banyak tentang apa yang melatar-belakangi sebuah cerita serem.

Dalam tulisan ini aku menuju SMA Negeri 2 Purwokerto. Dimana aku lebih dari duapuluh tahun dulu belajar. Sekolah tersebut kondang angker. Demikian paling tidak yang aku dengar dari kakak-kakakku yang juga bersekolah di sana banyak tahun sebelumnya. Meskipun waktu itu kakak-kakak tersebut juga kaum remaja cekikikan yang jelas distortif dalam memblow-up suatu desas-desus. Yang aku dengar begini, bahwasanya ketika murid-murid berkegiatan yang menyempatkan mereka harus menginap di sekolah, akan muncul kegaiban yaitusuara-suara seperti derap kaki bersepatu militer. Bersumber dari satu titik, dan melangkah sepertinya berjalan sepanjang susuran lantai depan-depan kelas. Kadang, katanya bolak-balik. Dan ‘tentara’ hantu itu dikatakan sebagai tentara bule.

Dalam suatu kegiatan, pernah juga aku melewatkan malam di sekolah. Tapi tiada kudengar seupilpun kehebohan tentang derap tentara hantu. Penjelasan sementara, mungkin di tahun 80an suasana jauh lebih terang disbanding tahun 60an, sehingga hantu-hantu males muncul. Tapi yang jelas, tetap saja banyak orang menggaris-bawahi bahwa SMA Negeri 2 Purwokerto itu angker punya. Penuh hantu tentara bule.

Ayahku selepas HIS pernah bersekolah di gedung SMA Negeri 2 tersebut. Namun ketika itu adalah jaman Belanda dan sekolah tersebut adalah MULO, setaraf SMP. Kata beliau, lapangan sepakbola di depan gedung sekolah adalah yang terbaik di Poerwokerto. Dibangun dengan rancangan yang benar untuk sebuah lapangan sepak bola. Dengan alas batu yang diratakan, pasir sebagai pori serapan air dan tanah tipis untuk wahana rumput tumbuh. Namun nasib lapangan itu berakhir tragis di jaman Jepang. Dimana ketika Jepang mengokupasi Poerwokerto, gedung sekolah dipakai sebagai tempat interniran sementara, gudang logistik, dan lapangan bola dipakai sebagai tempat parkir kendaraan tempur. Ancur jadinya. Karena itu adalah truk, mobil lapangan, atau lapis baja (punya Jepang kecil saja tapi bagaimanapun rantainya tetap membajaki tanah yang dilalui).

Dari cerita ayah tersebut, aku coba simpulkan bahwa dalam situasi interniran itulah kasus-kasus penyiksaan yang berujung kematian mungkin saja terjadi. Jepang terkenal kejam dalam menyiksa tawanannya, paling tidak itu yang ada dalam benak remaja ku. Kesan yang diperoleh dari film-film Perang Dunia 2 serta cerita-cerita orang dulu yang penuh distorsi. Kelak ketika aku makin tua, aku pikir ternyata apa yang aku coba simpulkan waktu itu meleset cukup jauh dari implikasi sesungguhnya. Begini, dalam peperangan, untuk menjadi kejam harus ada kemarahan atas suatu alasan. Jepang begitu kejam terhadap POW di Balikpapan dan Ambon karena dalam proses penaklukkannya tentara-tentara Australia (kebanyakan yang berani adalah anak-anak Australia) melawan dengan gagah berani dan mengabaikan ultimatum-ultimatum Jepang untuk tidak membumi hangus berbagai fasilitas. Korban tentara Jepang menjadi banyak, melahirkan dendam teman-temannya yang masih hidup. Sehingga ketika Ambon jatuh, contohnya, serdadu-serdadu sekutu yang tertawan diperintahkan menggali lubang besar di dekat lapangan terbang. Kelar menggali mereka disuruh berlutut sambil menundukkan kepala, serdadu Jepang yang mahir dengan pedangnya lalu menebasi kepala-kepala tawanannya dengan cukup satu tebasan untuk satu kepala. Enam orang serdadu Jepang menjagal lebih dari tiga-ratus POW sekutu. Mayat-mayat disepak kedalam lubang yang mereka gali sendiri beberapa saat sebelumnya.

Tetapi rasanya tidaklah sesangar itu yang terjadi di Jawa Tengah. Jepang yang kemudian menduduki Jawa Tengah adalah mereka yang mendarat di pantai Kragan (sebelah timur Rembang). Mereka utamanya adalah mengamankan Cepu yang banyak minyak. Hampir-hampir tidak ada perlawanan. Dalam tempo ukuran jam saja mereka menggilas Blora. Cepu, lalu ke Ngawi dan terus ke barat. Lancar-lancar saja. Seperti kalau kita bepergian sehari-hari. Dalam dua hari saja Kebumen sudah jatuh. Dan keesokan harinya, Purwokerto. Penaklukan yang santai ini tidak membuahkan watak-watak buas. Sehingga kesimpulan akan perlakuan tidak manusiawi terhadap POW yang diinternir sementara di gedung SMA 2 kurang pas. Lalu dari mana datangnya hantu-hantu bule penasaran tersebut?

Jawaban yang kuanggap cukup akurat kutemukan di tahun 2008. Inilah satu kisah nyata dari rekoleksi tentara sekutu:

Dengan begitu beratnya bombardier Jepang atas Tjilatjap, maka harapan kami untuk kabur dengan kapal melalui kota pelabuhan tersebut makin pudar. Oleh karena itu sekitar 2500an serdadu sekutu yang masih berjubel di Poerwokerta, sekitar 30 mil utara Tjilatjap, yang sebagian besar adalah elemen dari RAF dan RAAF yang sudah tak bersenjata, punya gagasan untuk bergerak ke barat, ke sebuah landasan udara di Tasikmalaja, Sebuah kota 50 mil tenggara Bandoeng.

Senja hari 6 Maret 1942, dua rangkaian KA disiapkan di Poerwokerta (melihat dari rutenya kemudian, besar kemungkinan rangkaian-rangkaian ini dipersiapkan di stasiun timur dan kemudian diberangkatkan juga dari situ. Sekitar seratus meter ke timur dari rumah tempatku dibesarkan - eng) Rangkaian-rangkaian yang terdiri dari beberapa gerbong penumpang dan sejumlah gerbong barang. Rangkaian yang pertama mengangkut bensin oktan tinggi untuk pesawat terbang, sejumlah onderdil pesawat, dan dijubeli manusia juga. Rangkaian ini dikomandani oleh Wing Commander (Mayor Udara) Ramsay Rae. Pukul 19:00 mereka berangkat dengan tujuan Maos yang tidak jauh dari kali Serajoe, yaitu titik pertemuan dengan jalur KA utama selatan. KA kedua yang berangkat dua jam kemudian dipimpin oleh Wing Commander N. Cave. KA ini dengan segera mengekor KA terdahulu yang sarat beban sehingga berjalan merayap. Ada sekitar 600an orang di kedua KA. Sekitar pukul 22:15, kurang lebih 7 mil dari Maos, kira-kira di Sampang, KA pertama di hadang oleh Jepang, Resimen Infantri ke 56, pasukan pelopor yang mendarat di Kragan, yang melaju secepat kilat dan sudah mencapai titik tersebut. KA dihujani mortar, senapan mesin dan granat. Beberapa gerbong barang segera dibuat terguling anjlok dari rel. Dua penumpang tewas seketika sementara banyak yang lain terluka parah. S.H. Adcock dari 152 MU (medic unit) mengenang, “Kami sedang melaju menyusuri perkampungan dan beberapa membuka pintu gerbong untuk dapat memperoleh angin segar, saat itulah penghadangan terjadi. Gerbong di depan kami meledak dihantam peluru, seorang serdadu muda di dekat pintu yang tadinya mengobrol denganku tewas seketika terkena tembakan tepat di antara dua matanya. Masinis dan juru api ketakutan melompat meninggalkan lokomotip melaju tanpa awak. Gerbong-gerbong dibelakang yang memuat bensin berkobar-kobar dashyat. Di gerbong depan ada seorang serdadu yang sebelum perang adalah pernah menjadi juru api di perusahaan KA LMS, melihat lokomotip ditinggalkan masinisnya, dia lalu melembar ke loko tanpa awak itu dan mengemudikannya hingga kehabisan uap karena ketel loko tersebut juga berlubang-lubang diterjang peluru.”

Sementara itu KA kedua yang terpaksa berhenti karena terhadang rongsok gerbong-gerbong KA pertama, juga dihujani tembakan. Lokomotip kena dan rusak. Korban berjatuhan di gerbong dan gerobak yang penuh orang. Fl./Off. J. Fletcher-Cook mendapat perintah untuk melanjutkan ke Maos dengan harapan memperoleh KA bantuan guna mengangkut yang terluka. Kelompok lain terdiri dari 74 orang termasuk banyak yang luka-luka, dipimpin Flt./Lt. G. Carr mencoba bergerak menuju Sampang namun jatuh ke tangan patroli Jepang dan menyerah. Lima dari yang luka-luka tewas.

Jepang tidak memaksakan serangannya dan mundur masuk ke pepohonan. Mungkin karena itu hanya pasukan pelopor yang kecil kekuatannya. Beberapa kelompok yang selamat lalu menyusur rel ke selatan. Setelah berjalan kurang lebih tiga mil mereka sampai di perkampungan yang ditinggalkan penduduknya. Mereka berkumpul di tempat itu dan diberi tahu bahwa tak jauh adalah jembatan Kali Serajoe. Mereka segera menyeberang. Tujuh orang yang luka paling parah ditinggalkan di gubuk dekat rel dengan ditunggui dua kesehatan dengan anjuran jangan kemana-mana hingga bantuan tiba.

Jembatan Kali Serajoe di Kesoegihan memiliki lima bentang dan ada jalur untuk orang berjalan di samping rel. Tentara KNIL yang bertugas menjaga jembatan waktu itu telah menyiapkan peledak guna penghancuran yang akan dilaksanakan tepat tengah malam dimana makin dekat waktunya. Lanjut Adcock, “Ketika aku dan beberapa sahabat sudah tinggal dua bentang lagi dari tepi tujuan, jembatan diledakkan, bentang tengah langsung runtuh ke sungai menewaskan banyak orang.”

Yang paling celaka adalah mereka yang luka-luka sehingga lambat bergerak dan belum sempat menyeberang jembatan. Kopral Bob “Butch” Finning dari RAF Skuadron ke-84 adalah salah satu dari yang luka parah itu. “Aku ada di sebuah bangunan gudang. Darah bersimbah dimana-mana, rekan-rekan mengerang, beberapa memang begitu parahnya dan sedang sekarat. Lalu aku mendengar jeritan dan teriakan-teriakan dari sebelah luar. Ternyata Jepang berdatangan. Mereka membayoneti yang sedang bergeletakan di lantai. Kukira ajalku telah tiba. Aku bergelung miring merapat ke rekan yang ada terdekatku supaya tusukan bayonet hanya menhunjam bokong dan paha saja. Jeritan kematian teman-teman sungguh menyayat. Sama menyayatnya dengan jeritan tentara Jepang yang menghunjam bayonet. Ketika mereka memeriksaku, aku berpura-pura tewas.”

Finning dibayonet puluhan kali namun ajaibnya tiada luka yang fatal. Lanjutnya, “Gudang itu cukup gelap, aku pelan-pelan mencoba bangkit di antara tumpukan yang tewas. Kudengar Jepang masih ada di luar sehingga aku menggeletak berpura mati lagi. Mereka kemudian masuk dan menusuki lagi yang bergelimpangan di situ. Aku kebagian juga. Sekarang kupikir matilah aku.” Ketika patroli Jepang tadi pergi, Finning punya 14 luka tusukan tapi hebatnya dia bertahan. Saat keadaan aman, dia merangkak mencapai jendela dan bergulir keluar ke semak-semak. Dia lalu pingsan. Saat sadar, hari sudah terang. Meski sakit luar biasa dari luka-lukanya dia mampu beringsut-ingsut menjauh dari arena pembantaian dan sampai di sungai. Sekuat tenaga dia berusaha menyeberanginya meskipun dia sudah sangat lemah karena darah banyak keluar. Ketika tengah terbaring kelelahan luarbiasa, beberapa penduduk situ menghampiri. Dia kemudian diseret dibawa ke kampung mereka. “Aku digebugi habis-habisan. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menyelesaikanku. Leherku dijerat. Mereka hendak menggantungku. Aku sudah tak peduli apapun. Tali mereka lumpatkan di cabang pohon, lalu menghelanya menarik tubuhku ke atas. Entah karena berat badanku atau cara kerja mereka yang tidak benar, sehingga beberapa kali jerat terlepas dan aku jatuh kembali ke tanah. Ketika kali keempat mereka menghelaku lagi, dan aku yakin kali ini habis sudah peruntunganku, lidahku sudah terjulur, semua sudah serba berputar dan dunia sudah gelap, terdengar ada mobil datang, dan aku jatuh lagi ke tanah. Kudengar bentakan keras dan orang-orang pada bubar, saat itu samar-samar aku melihat ada orang aneh sedang mengayun-ayunkan pedangnya yang panjang, Pikirku, mereka memutuskan tidak menggantung tapi memenggalku saja.”

Nampaknya perwira Jepang ini adalah penyelamat hidup Finning. Dia sudah dapat dua serdadu Inggris yang terluka dan kini dia membebaskan belenggu Finning kemudian menggotongnya ke mobil. Ketiga serdadu Inggris yang luka parah tersebut diangkut ke Poerwokerta ke tempat interniran POW sementara, dimana sudah dijubeli orang-orang Belanda.

Tempat itu adalah sekarang SMA Negeri 2 Purwokerto.

Tidak hanya tiga orang itu saja yang sedang terluka parah yang sampai di penampungan POW sementara. Ada banyak. Dan hampir seluruh dari yang luka parah itu akhirnya tewas. Situasi begitu kacau, tidak ada yang sungguh-sungguh mampu untuk mengingat akan apa yang terjadi di sekitar tanggal 7 hingga 11 Maret 1942. Demi mencegah gangrene, mereka yang tewas harus segera dikuburkan. Lubang-lubang digali di sekitar penampungan. Untuk kubur. Yang masih ketahuan rekan-rekannya, beruntung karena masih diupacarakan sederhana dan diingat dimana lokasi penguburannya kelak ketika perang selesai. Tapi yang masih dalam sekapan interogasi Jepang, atau karena sebab lain tidak teridentifikasi rekan-rekan sesama POW, dan Jepang menemukannya maka ia akan dikubur begitu saja tanpa administrasi yang cukup. Mereka-mereka inilah yang memenuhi daftar MIA (Missing in Action), tiada ketahuan dimana kuburnya. Dan apabila ada beberapa dari mereka dikubur secara serampangan di sekitar SMA 2, dimana hal itu mungkin sekali terjadi dengan melihat paparan di atas, maka dapat aku simpulkan bahwasanya arwah-arwah penasaran, tentara-tentara bule yang prok-prok-prok kesana-kemari di sepanjang lorong-lorong SMA Negeri 2 Poerwokerto itu adalah elemen-elemen dari RAF (Royal Air Force) atau RAAF (Royal Australian Air Force) yang di hadang Jepang di Sampang – Kesoegihan malem tanggal 7 Maret 1942. Satu fragmen tragis PD II yang terjadi di kampung halamanku.

Dalam perang besar,

kaum remajalah yang paling diperalat.

Di garis depan, dibalut rindu dan nestapa,

merangkul sahabat dalam sekarat.

Yang ketika mati ruhnya bingung.

Tak tahu dimana berada.

Tak ada yang dapat ditanyai.

Maka mereka lalu kian-kemari.

Mencari dan mencari…

ditulis oleh: Engky


Komentar :
Adjib
Hiiii... Engky ceritanya selalu menarik disimak.
Buat teman2 yang lain, nggak perlu takut hantu. Semakin kita berani, semakin takut hantu mengganggu kita, pissssss....

Minggu, 06 September 2009

Komentar Buka Bersama 1430 H

Iwan Sams
Terima kasih ya Ko,

Foto-foto kirim langsung ke Ajib, kan dia sekarang Redaktur Pelaksana nya Deltu News, wakakakak ....

Daku pilih jabatan reporter saja, jadi bebannya gak berat2. Yang berat2 kasih ke Ajib saja, maklum biasa bergaul dengan alat berat.

-----
Informasi tambahan :

Kemarin untuk pembayaran makanan kita di Eling-eling dengan sekitar 100 an mendoan dan 30 an mangkok sroto plus minuman aneka ragam habisnya sekitar Rp 670 ribuan. Bon-nya masih saya simpan untuk pertanggung jawaban.

Hasil bantingan dari masing-masing peserta buka bersama ternyata mencapai angka Rp 1 juta. Jadi masih ada sisa sekitar Rp 350 ribu. Uangnya masih ada pada saya. Nanti dipakai untuk acara Syawalan di Food Court Pasar Festival sekaligus menyambut kedatangan Deti Nafsiah dari Amrik.

Meriah sudah pasti. Karena kita akan menggelar acara nyanyi-nyanyi, ndak peduli suaranya fals, yang penting nyumbang lagu ya?

Untuk Deti yang bersiap pulang kampung dipersiapkan dua acara. Satu di Jakarta bersama Deltu Jakarta, dan yang kedua di Purwokerto bersama Deltu Purwokerto. Monggoh matur sama Pak (calon) Ketua Yayasan Deltu Club Sembodo Surarso.

Terus laporan lainnya :
Kemarin kita sedikit membicarakan masa depan paguyuban kita ini dan akhirnya kita sepakat mendukung ide pendirian Yayasan Deltu Club yang akan berkantor pusat di Purwokerto. Kegiatan akan dipusatkan di dua kota yaitu Purwokerto dan Jakarta.

Kegiatan di Purwokerto sebaiknya juga mengundang teman2 Deltu Club yang banyak berdomisili di kota-kota yang ada di Jawa Tengah semisal Semarang, Tegal dan Yogyakarta.

Sementara itu dulu tambahan informasinya. Sampai jumpa tanggal 2 Oktober yang akan datang.

Sony Lestio

Bayu juga ngasih tempat di rumahnya diiringi orgem tunggal,monggo kerso pak ketua pilih mana

Iwan Sams

Wahhh, kalau Bayu menyediakan tempat di rumahnya, mending di rumahnya Bayu aja yukkk ...

Gimana teman-teman?

Yang pernah ke rumahnya Bayu pasti setuju. Rumahnya halamannya luas, begitu asri (semoga rambutannya berbuah lebat) dan cocok buat kumpul2 dan nyanyi-nyanyi karaoke.

Pilih Inul Fiesta atau rumahnya Bayu ?

Deti Napsiah

Kepada teman-teman terkasih,

Terima kasih atas kasih setia kalian semua, Iwan, Wikan, Ani, Hardianto, Heri dan kawan-kawan yang lain, yang akan mengadakan acara kumpul bersama untuk saya.
Saya bukan pejabat, bukan orang penting so dengan amat sangat tolong jangan ngrepoti siapa-siapa.
Untuk Bayu yang menawarkan pakai rumahnya untuk acara ini, terima kasih untuk ketulusannya, tapi terus terang dengan amat sangat saya tidak bisa memakai rumah kamu, karena saya tidak mau merepotkan istri kamu, dan siapa saja yang terlibat.
Karena kalau acara ini selesai pasti banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
So saya akan vote No for Bayu ( alias saya tidak setuju kalau pakai rumah Bayu ), saya akan vote Yes untuk tempat yang lain.
Kemudian saya setuju banget apa yang ditulis saudara kita Wikan, there is no drug di acara kumpul-kumpul ini.
Terima kasih, Tuhan Memberkati kita semua !!!

Salam Damai Sejahtera,
deti

Kun Ani Ratih

Saya kira apa yang di utarakan Deti apik banget, jadi tidak merepotkan tuan rumah. Apalagi acaranya kan setelah bubaran kantor alias malam hari, terus yang pada karoke suarane pada fales kabeh melasi tetanggane Bayu mengko.

Yes for Inul Viesta.

Wikan Wiratsongko
wah pilihan yg sulit..,
terima kasih Bayu untuk kesediaannya menjadi tuan rumah acara kumpul2 berikutnya. Bayu pasti sudah memperhitungkan segalanya, termasuk kerepotannya. ., Bayu bersedia demi Deltu. te o pe be ge te.. lah!

rumah Bayu memang asik banget buat acara kumpul2, karena luas, rindang, adem, ayem , tentrem kertoraharjo. .. :)
melihat konsep acara nanti agak2 dugem.. (?), tanpa mengurangi rasa hormat saya, mohon maaf saya memilih tempat di Inul Viesta, sebetulnya kalau ada Luna Maya Viesta saya lebih memilih Luna Maya Viesta..

bagaimana kalau kumpul2 berikutnya di rumah Bayu? ini cocok untuk konsep keluarga, anak2 bisa main sendiri, kita bisa ngobrol2 deh..., mungkin di bulan November atau Desember.
akur..?

Deltu-Club Buka Bersama .... (Lagiii...)





Kemarin sore (1 September 2009) kita kumpul2 dalam rangka buka puasa bersama dan silaturahmi.
Luar biasa! kata itu yang pantas, dengan rencana yg dadakan, melalui milis ini, kita bisa berkumpul.

Diawali kedatangan Kun Ani, menyusul aku, Cahyono (beserta anak), Sutarso, Herry Drajat, Adi "Asep" Yani, Eko Priyanto, dan berturut-turut: Makhsun, Sony, Bayu (beserta istri), Darno, Meilani (beserta suami) dan terakhir al mukarom bapak Iwan..

Seperti biasa, acara mengalir saja, cerita2 kangen bersaut-sautan. ada sedikit cerita yang bikin geli..., ketika menunggu waktu adzan maghrib melalui TV, di tampilan TV tertulis "Sesaat lagi menjelang buka puasa"...tapi tiba2 srrrruupppphhh...si Asep udah nyruput teh manis..., gak lama kemudian bunyi bedug dug..dug..dug.. si Herry ikutan nyruputtt teh manis..., gak taunya bunyi bedug untuk siaran iklan... hahaha...kurang 1 menit udah pada buka...batal..batal..., hahaha sayang banget puasa seharian jadi batal, padahal tinggal semenit...,
bagaimana pak haji Adjib, apakah puasanya sah..?

Seperti kata Iwan, setiap pertemuan ada muka2 baru, kalo muka baru ada Meilani dan Sutarso. selain muka baru, juga kepala baru, si Eko dengan penampilan tampak depan yg nyaris kinclong, rupanya dia pingin meniru kang Darno..hahaha.., lumayan buat bantu lighting foto.. (hush puasa2...!)

Di pertemuan kemarin, dibahas juga soal rencana acara halal-bihalal sekaligus menyambut kedatangan Dety dari Amrik. acara akan diadakan tanggal 2 Oktober malam di food court pasar festival kuningan dan di Inul Karaoke. Bayu akan mengatur bookingnya. jadi kita mau bikin agak lain suasananya, kita ber-karaoke tapi no drug ya.., so siapkan mulai sekarang..

Berikut foto2 yang berhasil direkam di TKP, selamat menikmati..

wikan

Kamis, 23 Juli 2009

Mini Reuni di Rumah Ellie Sacharina Dewi






Minggu, 19 Juli 2009 bertempat di rumah Ellie Kalibagor (doi anak pabrik gula nih dulu) digelar reuni mini. Sayang dokumentasinya belum ngumpul, sementara gambar yg ada ini dicuri dari facebook alfina damayanti.
Ayo teman2, pangling nggak? (foto diambil dari facebook alfina & Endah Triyati)