Sabtu, 02 Januari 2010

Deltu-Plus Goes to Nature (2)


Peta sudah dikirim oleh Mister Max. Dan sesuai dengan konfirmasi akhir yang saya terima hari Sabtu lalu maka peserta outing Deltu-Club ke Sukabumi hari Jum'at dan Sabtu, 1-2 Januari 2010 nanti adalah :

(1) Keluarga Iwan Samariansyah (4 orang)
(2) Keluarga Wikan Wiratsongko (4 orang)
(3) Keluarga Catur Yuliastuti (3 orang)
(4) Keluarga Kun Ani Ratih (4 orang)
(5) Keluarga Elly Sacharina Dewi (3 orang)
(6) Keluarga Sonny Listio (2 orang)
(7) Keluarga Nina Indrayani (4 orang)
(8) Keluarga Bowie (4 orang)
(9) Keluarga Adiyani (Asep) - 4 orang
(10) Keluarga Eko Priyanto - 4 orang

Masih ditunggu kedatangan dan kepastiannya hingga email ini diturunkan adalah :

(1) Keluarga Ken Cintowati (5 orang)
(2) Keluarga Roeliyanto Moegiyatno (4 orang)
(3) Keluarga Erwien Soebihartanto (4 orang)
(4) Keluarga Ida Riyana (4 orang)
(5) Keluarga Ugi Susniati (4 orang)
(6) Keluarga Ade (4 orang) -- email terakhir menyatakan akan menyusul pada Sabtu malam atau Minggu pagi.
(7) Keluarga Roy Widijono
(8) Keluarga Imam Wuryanto

Yang pamitan pada saat-saat terakhir adalah :
(1) Keluarga Ratno Charis
(2) Keluarga Nuriana Budi Cahyani
(3) Keluarga Tentrem Murih Astuti
(4) Keluarga Yuddy Setyo Wicaksono
(5) Keluarga Kasid - Bandung
(6) Keluarga Slamet Iwandito - Bandung
(7) Keluarga Ipung - Cilegon

Teknis pemberangkatan : Semua peserta langsung menuju ke Sentul Rest Area, Jalan Tol Jagorawi. Kontak person adalah saya (0811-146351) , saudara Max (0811-1986864) dan saudari Kun Ani Ratih (0812-9410574) . Biaya per orang adalah Rp 135ribu (tanpa RAFTING) dan Rp 275ribu (dengan RAFTING). Bayi dan anak-anak di bawah usia 7 tahun gratis !

Biaya tersebut nanti dikumpulkan dan diserahkan ke saudari Kun Ani Ratih (Bendahara) sebelum acara supaya bisa segera dibelanjakan untuk kebutuhan makan 3x, penginapan dan sewa alat-alat yang diperlukan.

Panitia juga memberikan subsidi sebesar Rp 500 ribu,- untuk keseluruhan peserta yaitu merupakan uang kas sisa dari Acara terakhir berupa Karaoke Bersama di Inul Viesta beberapa bulan lalu.

Laporan Selesai.
Komisioner Deltu Club,

Iwan Samariansyah

Disarikan dari milis DLTU_Club@yahoogroups.com

Deltu-Plus Goes to Nature (1)

Perkemahan Old and New di tengah alam yang asri dilengkapi dengan kegiatan Rafting untuk keluarga - paket dewasa dan anak-anak yang dijamin memberi pengalaman tak terlupakan.

Diberikan paket hemat buat rekan deltu : Hanya Rp 275.000/orang dengan fasilitas Menginap di Kiara Tradisional Cottage, 3 kali makan dan 2 kali snack, Rafting 5 km, Kelapa muda, local transport, sertifikat rafting). Apabila ingin paintball hanya menambah Rp 50.000,-

Bila tidak ikut Rafting maka biaya bisa berkurang.

Acara Pokok :
Digelar pada tanggal 1 Januari - 2 Januari 2010 kita menuju Sukabumi. Sebaiknya didaftar kendaraannya dulu agar keluarga yang mau ikut bisa berangkat bareng-bareng dalam satu kendaraan.

Deltu Plus, karena acara digelar oleh Angkatan 1987, namun membuka diri untuk peserta kakak kelas (1985 dan 1986) dan adik kelas (1988 dan 1989).

Kontak person : iwansams@gmail.com atau 0811-146351.

Diambil dari Old and New The Deltu Plus
SMA Negeri 2 Purwokerto Group on Facebook

Sabtu, 12 Desember 2009

Surat dari Kakak Angkatan '72

Iwan Sams, mendapatkan email dari Kakak kelas kita, angkatan 72. Mungkin Bapak kelas kali ya? Hahaha ...

Nama beliau Supriyatno Sutardjo mengirim e-mail berikut ini untuk tambah2 wawasan mengenai sekolah yang kita cintai itu.

Kyai Lurah,

jamane inyong sih sing jenenge eskul urung ana tur kegiatan luar pelajaran sitik banget,

Tahun 72 ana pramuka aku melu mung telung wulan terus bubar oranana lanjutane jarene oranana pelatihe. Wektu kuwe sing ana saka dirgantara pelatihe auri sekang wirasaba, dadi ya pramuka magel/mendo.

Rohis urung ana, aku bocah enem apa papat yah wis klalen tau di seneni pak Eman Sudarsono guru agama waktu kuwe sebabe ora melu jumatan ning bangsal. Gemiyen durung ana mushala/masjid sakiye wis ana ya!

Lha kegiatan sore bar skolah biasane ya pada sinau bareng ngerjaken PR sekang Bu Suji, Pak Darso, Pak Yono, Pak yuwono dll. Angger ora nana PR ya pit-pitan kliling praketa, lha wong inyong dudu asli praqerta.

Nek Olahraga mlayu-mlayu metu sekang sekolahan biasane muter ngliwate smea maranata nang kono nggodani bocah SMEA.

Disarikan dari milis DELTU-Club@yahoogroups.com

Rabu, 09 Desember 2009

"Korupsi" di SMAN2 Purwokerto


Memperingati tanggal 9 Desember 2009 ini sebagai hari anti korupsi, nih jadi teringat sesuatu di sma2 pwt dulu... Kategorinya ya masuk sebagai korupsi, cuma gak tahu bisa masuk untuk diselidiki KPK apa tidak ya gak tahu, mestinya ya tidak wong kejadiannya sudah dulu banget... dan pelakunya kalau diselidiki ya banyak juga sebenarnya.. . (Hayo padha mau ngaku apa tidak)... Kerugiannya berapa, siapa yang menanggung ruginya itu... Pokoknya judul thread ini adalah Korupsi di SMAN2 Pwt, kalau mau lebih lengkap ya ditambah 'jaman dulu'. Baca saja terus lanjutannya ini.

Mudah-mudahan masih padha ingat kalau pelajaran olahraga (yang bukan teori lho ya), biasanya kan siswa sudah ganti seragam olahraga yang warna biru itu (kayak seragamnya City apa seragamnya Lazio persisnya ya ?). Kalau yang laki biasanya ganti di kelas, kalau yang perempuan ganti dimana ya (lupa aku tempatnya). Terus habis itu kumpul di lapangan dan diabsen sama pak Gi (CMIIW, wong namanya lupa2 ingat). Setelah lengkap, semua disuruh keliling lapangan sekolahan depan tapi lewat jalan bukan di pinggir lapangannya. Jadi biasanya mengikuti arah berlawanan jarum jam (ini kayaknya juga bener, soalnya kalau searah jarum jam, nanti ngelawan arus).

Terus korupsinya dimana ? (ya bentar dong, ni lagi ngingat-ngingat lagi, kalau gak sabaran, yang dikorupsi ceritanya ini saja lho).

Pak Gi biasanya instruksi lari-lari kecil keliling 3 putaran, terus ke arah jalan tanah (tahun 84-87 dulu belum diaspal) terus masuk ke jalan besar, berlari di trotoar biasanya, terus belok kiri masuk jalan ksatrian dan masuk lorong sekolahan lagi. Genap 1 putaran dan terus sampai 3 putaran. Itu normalnya.

Terus korupsinya dimana sih ?

Waktu itu kan ada 4 unit (apa 3 unit ya) bangunan kelas yang di pojok barat lapangan menghadap ke timur membujur utara-selatan. Tentu saja kalau pas di sebelah barat bangunan itu akan tidak kelihatan oleh pak Gi (hehe... wong pak Gi sendiri gak ikut lari). Nah ini yang pelaku korupsi beraksi, saat putaran pertama, dia (atau sering mereka) cuma lari sampai sini saja, sementara yang lain tetap lari. Para koruptor ini menunggu temannya yang lain berlari sampai putaran yang kedua atau malah yang ketiga, kemudian baru ikut lari kembali untuk putaran tersisa.

Nah betul kan itu sudah tergolong korupsi, jadi bertobatlah wahai para koruptor... mumpung masih ada kesempatan bertobat.

Kalau tidak ingin diproses di KPK, ya coba lah saat reuni-an kembali di sekolahan (yang entah kapan lagi), lunasi lah hutang-hutang lari sekian putaran sesuai dengan jumahyang dulu dikorupsi... .

ps. sorry kalau bikin judulnya dibuat mengerikan dan dapat merugikan nama baik sekolahan... .

Salam semuanya,

Iqmal

(Diposting Iqmal Tahir di milis deltu-club@yahoogroups.com)


Ps: Gambar illustrasi tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya, waspadalah...!!!

Kamis, 03 Desember 2009

"Finding Nemo, Uppss... Finding Ugi"


Kawan,

Di facebook baru saja seorang kawan kita menemukan diriku dan dia kita temukan. Ugi S. Damas namanya.

Dulu saat sekolah dia kita kenal dengan nama Ugi Susmiati, ex Fisika-2. Saat ini Ugi berdomisili di Rawamangun, Jakarta. Aku sudah mengundangnya bergabung di milis ini.

Salam,

IwanSams



Ugi :

makasih wan ! tp jgn dibilang diketemukan, oya..namaku ugi susniati,bukan susmiati ! blm di nasi kuning..rumahku di pwt d jln mas cilik no 12.

IwanSams:

Gi,

Tradisi di milis ini, kalau kawan lama tak berjumpa terus "ketemu" ya dianggap barang temuan alias diketemukan, hehehehe ............ .

Kalau kumpul-kumpul dan pas ada Nina, selalu salah satu topik yang hangat disinggung adalah "dimanakah Ugi sekarang berada?"

Saat Reuni Akbar tahun lalu, kang Kadar sebenarnya sudah berusaha mencarimu di Jalan Mas Cilik, namun entah kenapa tak ketemu. Mungkin beliau mencarinya di alamat yang keliru.

Suatu hari saat aku dan keluargaku menginap di Hotel Mutiara Purwokerto, kusempatkan berjalan kaki bersama anakku ke jalan mas Cilik juga. Tapi kok waduh, semuanya sudah berubah. Hampir tak kukenali lagi rumahmu yang biasa juga jadi tempat ngumpul anak-anak kost seperti aku, Tartum dan Wikan dulu usai latihan Pramuka saat jaman dulu itu Gi.

Jadi, begitulah. Finding Ugi. Mirip dengan film kartun lucu yang sukses itu. Judulnya Finding Nemo. Hehehehe

Gi, ceritakan kau kemana aja selama 20 tahun ini ? Kita tahunya kau kuliah di ISI. Kalau dilihat di facebook, kau malah sudah jadi Direktur, pula sudah S-2. Luar biasa.

Silahkan .....

Kadar Juniarto :

Betul, tidak mengenal maka tak sayang

Silahkan memperkenalkan diri lagi, buanyak yang menanti apalagi ditambah bumbu-bumbunya disekitar jeng Ugi. Dulu pada saat persiapan reuni kota kripik ini kita kubek bareng-bareng, kita cari sisa-sisa informasi hanya bermodal buku biru (yang sudah lumayan kucel).

Dibantu kawan-kawan panitia akhirnya kita bagi tugas masing-masing wakil kelas minimal harus bisa mendapat informasi 20 orang. Luar biasa hasilnya dari sekitar 70 nomor telepon yang ada di blog deltu bertambah menjadi 194 nomor telepon (yang semuanya aktif waktu itu). Dan sesuai dengan mandat yang ki lurah dan sedulur berikan (update itu jalan terus) sampai kapan yah ?

Mungkin sampai kita sama-sama tua atau sampai ajal menjemput kita ?

salam

Iqmal Tahir :

Ugi itu memang mungkin mirip orang ilang, bayangkan saja Yanti yang pernah ditanya saja sampai gak tahu... Yanti itu yang dulu di gang mas cilik juga, serumah sama Ugi. Untuk jelasnya ya tanya Iwan kalau yang untuk mbakyu ini...

Disarikan dari milis DELTU-Club@yahoogroups.com

Selasa, 24 November 2009

Pecahan 2000, THP Menteri dan Bank Mutiara


Belum lama ini, bila kita berkendaraan melalui jalan tol, kita akan jarang menerima uang kembalian berupa lembaran Rp 1.000,-. Kasir pintu tol justru mengembalikan sisa tol dengan koin Rp 500,- aluminium.

Memang sejak Maret 2007, Bank Indonesia telah menerbitkan uang kertas (UK) baru, pecahan Rp 2000,- (dan rencananya jg Rp 20.000,-) lalu menarik uang kertas Rp 1000,- bergambar Pattimura untuk digantikan dengan koin baru Rp 1.000,- yang bahan metalnya lebih murah dari koin Rp 1.000,- seri Kelapa Sawit (1993 - 2000). Lalu apa arti perubahan ini?

Ya, tentu saja, dengan terbitnya pecahan Rp 2000, berarti pemangkasan harta atau aset kita dalam mata uang rupiah, menjadi separuh dari daya belinya semula, yang disebut inflasi rupiah! Anda yang tadinya cukup nyaman dengan penghasilan, katakanlah Rp 2 juta/bulan, kini dengan adanya pemangkasan tadi, anda harus menambah penghasilan dua kali lipatnya! Artinya selepas tahun 2009 nanti, penghasilan anda harus siap naik menjadi Rp 4 juta atau sekurangnya Rp 3 juta / bulan bila ingin tetap nyaman seperti hari ini.

Lalu bagaimana dengan rakyat kebanyakan yang penghasilannya kurang dari Rp 1 juta sebulan ? Ya, semakin blangsak..

Berdasarkan sejarah, ketika era Soeharto dulu, uang kertas tertinggi sejak tahun 1968-1991 adalah Rp 10.000,-. Lalu dengan alasan defisit APBN, diedarkanlah uang lembaran Rp 20.000,- seri Cengkeh/Cenderawasi h, tahun 1992. Karena nominal "aneh" ini sukses beredar, maka tak lama kemudian muncul nominal lebih tinggi lagi yaitu Rp 50.000,- bergambar Pak Harto (1993). Dan tidaklah mustahil, bila uang kertas Rp 2.000,- baru ini sukses beredar, maka Bank Indonesia akan menerbitkan uang kertas dengan nominal baru lainnya, misalnya: Rp 200.000,-; Rp 500.000,-, bahkan Rp 1 juta!

Sebab hal itu memang lazim dilakukan oleh Bank Sentral di negara berkembang. Karena ciri khas mata uang negara maju, nominal angkanya hanya tiga digit saja, seperti USA $100, Arab Saudi 200 riyal, Eropa 500 euro, Inggris 100 poundsterling; kecuali Jepang dan Korea Selatan dengan 10.000 yen dan 10.000 won, sebagai sisa sebuah trauma ekonomi pasca Perang Dunia II.

Dengan ditariknya pecahan Rp 1.000,- maka otomatis uang receh terkecil adalah Rp 500,-. Sedangkan koin pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- akan lenyap dengan sendirinya, rusak atau dicuekin. Hal ini lazim terjadi pasca terbitnya uang baru, ketika pecahan Rp 1,- dan Rp 2,- lenyap pada tahun 1975, sepuluh tahun kemudian Rp 5,- dan Rp 10,- lenyap di tahun 1985, lalu Rp 25,- dan Rp 50,- lenyap di tahun 1995. Kini pada 2009 ini pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- sudah kehilangan daya belinya. Rakyat dieksploitasi untuk memacu kegiatan ekonominya, dan dipaksa merelakan hilangnya sebagian jerih payah mereka.

Perhatikan akibatnya. Bila tadinya sebutir telur ayam negeri seharga Rp 10,-/butir di tahun 1975, lalu naik menjadi Rp 100,-/butir di tahun 1985, maka pemegang uang rupiah telah kehilangan asetnya 1 digit dari Rp 10,- ke Rp 100,-. Artinya si pemegang uang kertas harus mencari sepuluh kali lipat lebih banyak lagi lembaran rupiah agar bisa membeli telur yang sama. Bisa jadi suatu hari nanti harga sebutir telur ayam negeri harus dibayar dengan lembaran Rp 10.000,-/butir, tinggal menunggu waktu saja.

Untuk mengakali inflasi ini, Bank Indonesia cukup menambah angka nol pada uang kertas baru. Inilah riba Zero Sum Game!

Sampai kapan permainan riba ini akan berakhir? Rakyat yang kalah gesit dalam mengimbangi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya dan... tambah blangsaaks, kasihan rakyat miskin.

Di sisi lain, gaji para pejabat tinggi dinaikkan dgn drastis, dan Menkeu telah menyatakan pula bhw dana APBN 2010 siap utk membayar kenaikan tsb. Padahal THP skrg sdh di atas 100 jt, ditambah dana taktis tiap menteri lebih dr 2 Milyar tiap bulan. Penerbitan pecahan uang Rp. 2000 tdk ada pengaruhnya sm skl bagi mereka. Kasihan rakyat miskin...

Menurut data di sebuah TV, andai menteri kita jumlahnya hanya 15 orang, seperti di Amerika, dgn THP yg lama, maka negara akan bs menghemat sedikitnya 7 Trilyun tiap tahun. Laa ini kok malah THP-nya dinaikkan! Blm lagi kalau mengingat outcomes dr para menteri tsb, duuuuh., nyuwun pangapunten Gusti.. Amerika yg segede T-Rex yg urusannya sedunia aja cuma 15 menteri, kita kok bs smp 34 menteri seh?? Gmn tuh Det??

Yg jgn dilupakan jg, pemerintah dengan gampangnya mengucurkan 6,7 Trilyun ke Bank Century, jauh dari angka 1,3 T yg telah disetujui DPR. Salah satu tujuan bailout itu adalah utk mengembalikan dana deposan yg di bawah 2 Milyar. Ironisnya, para deposan dimaksud ternyata tetep saja gigit jari dan menjerit karena dananya ditelan bank yg telah dimanupulasi namanya menjadi Bank Mutiara.

Para penegak hukum terkait terkesan mandul, hanya Robert Tantular saja yg diperkarakan. Ditambah pula dgn DPR yg ogah2an dgn hak angket Bank Century, dgn dalih: menunggu hasil audit BPK (yg skrg dikomandani oleh mantan Dirjen kita).

Buat Sri Gayatri, teruslah berjuang!

Ditulis oleh : Donny Cahyo Nugroho di Milis Deltu

Pantun Deltu by Yuswantoro


Pergi ke Malang naik kereta api

Jangan lupa membawa roti

Biarpun milis deltu sedang sepi

Jangan khawatir selalu kunanti

Makan mie soto di Batu Tulis

Jangan lupa minum teh manis

Biarpun milis jarang ditulis
Tidak membuat hati menangis

BERSAMA DELTU MEMBUAT HATI GEMBIRA