Kamis, 03 April 2008

Jumpa Hardiyanto di Purwokerto

Oleh : Tri Budi Yuswantoro

Libur panjang pada 20-24 Maret 2008 lalu, Alhamdulillah saya diberi kesempatan pulang ke Purwokerto. Berangkat hari Kamis pagi sudah terasa kepadatan lalu lintas di jalan tol Jakarta Cikampek.

Wah, rasanya kaya mau lebaran aja, tapi ya santai aja namanya juga semuanya mau pada liburan.

Hari Jumat saat di Purwokerto saya iseng telepon Hardiyanto menanyakan liburan ke Purwokero atau tidak. Saya dapat info Hardiyanto dari milis ini lhooo…, namun baru sebatas telepon dan email-an aja.

Ternyata Hardiyanto Jum’at itu dalam perjalanan menuju Purwokerto. Wah kayanya bisa ketemuan nih di Purwokerto pikirku. Malamnya saya telepon dan ternyata Hardiyanto sudah ada di Purwokerto.

Seteleh mengobrol lewat telepon saya ajak Hardiyanto untuk ketemuan besok pagi hari Sabtu. Tempat kita setujui yang netral aja jangan di rumah. Yang paling memungkinkan karena pagi ya alun alun Purwokerto sekitar jam 07.00.

Hari Sabtu pagi kita konfirmasi lagi dan dipastikan bisa, maka saya meluncur ke Alun-Alun Purwokerto yang berjarak sekitar 600 meter dari rumah. Saya tinggal di jalan Jend. Sutoyo atau yang dulu dikenal dengan nama jalan Sawangan, gang I.

Sambil menunggu Hardiyanto datang, saya sempatkan baca-baca koran yang disediakan di alun alun.

Sekitar 10 menit saya ditelepon Hardiyanto dan saya bilang kalau saya ada di jalan tengah alun alun, dan saya sempat lihat di depan mesjid ada orang yang barusan telepon.

Saya perhatikan terus dan saya yakin yang naik sepeda motor itu Hardiyanto walau pakai helm. Keyakinan saya benar orang yang naik sepeda motor menghampiri dan itu Hardiyanto.

Hardiyanto datang bersama istri dan anak nomor dua. Yang nomor satu katanya masih tidur.

Saya datang sendirian, kebetulan istri dan anak saya menginap di Gumelar Ajibarang, tempat mertua saya. Sedangkan saya menemani ibu yang barusan sakit, yang sejak ditinggal almarhum bapak, sendirian di rumah Sawangan.

Setelah bersalaman, saya dan Hardiyanto duduk di tempat pot yang pinggirnya cukup buat duduk, sementara istri dan anak Hardiyanto asyik main di alun alun.

Sambil memandang gunung Slamet yang jelas kelihatan kita bercerita ngalor ngidul. Maklum saya dengan Hardiyanto hanya sekelas waktu kelas 1-4 tahun 1984, setelah itu Hardiyanto di Fis dan saya di Bio.

Perpisahan yang cukup lama lebih dari 20 tahunan.

Saya perhatikan tidak banyak yang berubah dari Hardiyanto, masih pakai kacamata dan kurus he he he, sama kok dengan saya. Namun sebetulnya saya akrab dengan Hardiyanto sejak di SMP Negeri 2 Purwokerto.

Waktu itu walaupun saya tidak sekelas, namun karena memiliki hobbi yang sama yaitu bidang pramuka dan mungkin dianggap cakap, saya bersama Hardiyanto dan beberapa teman dalam satu regu, sering mewakili SMP Negeri 2 Pwt dalam lomba tingkat kecamatan maupun kabupaten.

Malahan Hardiyanto masih ingat nama regunya yaitu Rajawali dengan Imam Santosa sebagai ketuanya dan saya sebagai wakilnya. Wah kalau yg ini saya lupa deh pernah jadi wakilnya he he hebat ngga, ya ngga ya.

Sekitar satu jam kita ngobrol tanpa ditemani makanan maupun minuman, tetapi nggak terasa lapar/haus karena mungkin udara yang relatif cukup segar. Setelah itu kita berpisah, yang Insya Alloh kalau ada kesempatan bertemu di Jakarta.

Bertemu Asep

Oleh : Tri Budi Yuswantoro

Sambil nunggu waktu pulang, saya mau nulis lagi ah.Kali ini mengenai pertemuan dengan Asep Adiyani.Niat ketemu Asep ini mendadak begitu saja.

Saat itu hari Kamis tanggal 13 Maret 2008, kebetulan saya ada urusan pribadi di daerah Fatmawati. Setelah dapat ijin dari bos dari Bekasi saya meluncur ke Fatmawati.

Selesai urusan di Fatmawati saya lihat waktu masih pukul 12.00. Kebetulan saya punya nomor HP Asep, maka saya telepon dan saya bilang kalau ada waktu saya akan mampir sekitar pukul 13 an.

Setelah ada konfirmasi yaitu kepastian bahwa dia ada di kantor dan tidak mengganggu pekerjaannya, maka saya meluncur ke arah Wisma Metropolitan di bilangan MH. Thamrin.

Informasi lewat SMS Asep berkantor di Wisma Metropolitan gedung belakang yang kemudian baru saya tahu kalau itu gedung World Trade Centre (bener ya Sep). Agak ketat juga pemeriksaan untuk masuk ke gedung itu, mungkin alasan keamanan.

Saya sempat kesasar di lantai 9 (habis info awalnya begitu), ternyata begitu di telepon balik ada di lantai 7. Di lantai 7 saya ketemu Asep yang sudah lama memang tidak bertemu.

Kesan saya ketemu Asep wajahnya masih kaya 20 tahun lalu, termasuk ngomong, candanya dan tentu saja kumisnya yeeee. Thank ya atas sambutannya.

Ketemu Bayu Prayoga

Oleh : Tri Budi Yuswantoro

Sambil nunggu jam pulang yang kurang 30 menit lagi, saya coba tulis pertemuan saya dengan Bayu teman kelas 1-4 tahun 1984.

Awalnya saya peroleh alamat Bayu dari milis Deltu-Club yaitu di daerah Jalan Muh. Kahfi I. Hari Rabu tanggal 12 Maret 2008 pulang kantor saya niat mencari alamat tersebut.

Daerah tersebut nggak asing karena saya dulu tiap hari lewat (kalau sekarang lewat Moh. Kahfi II). Berbekal baca peta karena masuk gang, saya coba telusuri daerah itu sambil sekalian nyari masjid untuk sholat magrib yang banyak terdapat di daerah tersebut.

Masuk gang Melati saya temukan rumah nomor 19 dengan halaman yang luas, kaya daerah kos kosan gitu. Saya masih ragu soalnya saya ngga kontak sebelumnya (habis ngga tahu no teleponnya) bener ngga ini rumahnya.

Karena saya naik sepeda motor saya putuskan jalan lurus dulu sambil mikir "mampir ngga mampir ngga".

Jalan (gang) makin sempit terus ada belokan, mantap aja belok kanan eh di depan jalan langsung pintu masuk mushola, walah jalan buntu ternyata.

Biar ngga ketahuan malunya sekalian niatnya emang mau sholat magrib ya udah berhenti untuk sholat.

Selesai sholat ada Bapak Haji yang nanya alamat saya (mungkin dia heran kok ada orang asing mampir ke mushola ini).

Sekalian aja saya tanya alamat jl. Melati No. 19, eh malah dia kenal baik ama Bayu. Ya udah, akhirnya kita jalan bareng ke rumah Bayu, terus nama Bayu dipanggil oleh Pak Haji. Keluar anak cewek (putri Bayu) dan bilang kalau bapaknya ada.

Saya tunggu sebentar keluarlah seorang yang nggak asing (karena saya udah siap kalau itu Bayu) dengan rambut panjang tanpa pakai baju, soalnya mau mandi. Bayu pertama lihat saya agak bingung juga maklum udah lama nggak lihat saya. (mungkin sayapun kalau ketemu di jalan ngga ingat kalee).

Saya bilang kalau saya Yus temen SMA 2 Purwokerto, baru deh nyambung. Akhirnya kita ngobrol ngobrol, setelah agak lama dikit saya pun pulang, dengan cerita nostalgia masa lalu.

Main ke Kantornya Iwan Sams

Oleh : Tri Budi Yuswantoro

Semenjak adanya jaringan internet di kantor (walaupun sering ngadat and lelet), kalau ada waktu senggang (kaya orang sibuk aja yee) saya iseng cari artikel apa aja lewat google.

Namanya juga baru melek internet, orang bilang cari aja di google. Dari kebiasaan cari artikel itu akhirnya nyasar ke blog punya teman lama namanya Iwan Samariansyah.

Tadinya saya ngga mengira kalau itu blog punya Iwan (walaupun ada gambar sketsanya tapi wajahnya kok wajah orang gemuk, tahu kan Iwan waktu dulu kurus, tinggi, pecicilan he he), eh begitu lihat isinya kok menyinggung SMA 2 Purwokerto dan tahun 1987 lagi. Maka saya coba ingat ingat apa benar ini Iwan teman saya waktu kelas 1-4 tahun 1984.

Saya baca baca lagi artikelnya sampailah pada kesimpulan bahwa pemilik blog itu Iwan Samariansyah. Saya coba kasih komentar di blog itu sambil cari info nama Iwan Samariansyah di google, dan ketemu beberapa berita tentang dia eh beliau dengan berbagai aktivitasnya (benar benar orang sibuk waktu di kampus UGM, jadi wartawan, kuliah S2 di UI sampai menjadi calon anggota DPD), dan ketemu nomor handphonenya.

Iseng saya telepon terus nyambung ngobrol sana sini dan sempat chatting juga.

Rabu tanggal 27 Pebruari 2008 sekitar pukul 14.00 WIB kebetulan saya ada tugas di daerah Pramuka, saya telepon Iwan kalau saya mau mampir ke kantornya di Jl. Pemuda. Iwan di tengah kesibukannya dengan senang hati menyambut kedatangan saya.

Itulah pertemuan saya dengan setelah lebih dari 20 tahun tidak ketemu (bisa jadi lebih karena sejak kelas 2 SMA praktis saya jarang berhubungan selain beda jurusan, saya juga orangnya agak kurang gaul kalo istilah sekarang).

Saya lihat Iwan yang sekarang pantaslah kalau jadi bos dilihat dari style & gaya bicaranya.

Yang saya kagumi dari Iwan itu adalah daya ingatnya yang masih tajam apalagi kalau cerita teman teman SMA, wong saya aja ngga ingat kalau dulu itu wakil ketua kelas 1-4 sementara Iwan ketuanya, kemudian main pantomin bareng sampai sampai katanya Iwan itu pernah tidur di rumah saya (atau jangan jangan sayanya aja yang sudah jadi makhluk Tuhan yang paling pelupa he he).

Itu dulu sekelumit cerita saya, Insaya Allah ntar disambung dengan cerita pertemuan dengan Bayu dan Asep Adi Yani.

Anggap saja ini awal mula saya menulis di internet, yaaaa sekedar mengungkapkan perasaan/ isi hati ke bentuk tulisan.

Ternyata kalau ngga punya bakat menulis, bikin begini aja susah juga yaaa. Perlu konsentrasi he he he, padahal kalau lihat tulisan orang lain di blog, kok kayanya mudah he he he.

Yuddy SW sudah GM di PT PLN

Dicari kemana-mana, ternyata Yuddy SW udah jadi GM di PLN. The rising star juga kawan segenerasi masa SMA ini top juga karirnya. Berikut kutipan beritanya di KOMPAS edisi 14 September 2005 yang lalu. Kita semua tentu saja ikut bangga .....

############################################################################

Potensi Listrik dari Panas Bumi

Tidak berbeda dengan pembangkit listrik lainnya yang bertenaga uap, gas, atau diesel, Pembangkit Listrik tenaga Panas Bumi (PLTP) menggunakan tekanan uap air untuk menggerakkan turbin. Hanya saja uap air yang dibutuhkan sudah diperoleh langsung dari perut bumi. "Seolah-olah terdapat boiler (perebus air) di dalam perut bumi," kata Yuddy Setyo Wicaksono, general manager PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Kamojang.

Uap air pada dasarnya terbentuk dari penguapan air di dalam perut Bumi. Energi panas yang dimiliki uap air berasal dari magma bertemperatur lebih dari 1.200 derajat Celcius. Panasnya mengalir melalui lapisan batuan kedap air di atasnya yang disebut bedrock. Di atas bedrock itulah terdapat lapisan aquifier berisi air yang berasal dari akumulasi rembesan air hujan.

Air yang dipanaskan pada suhu tinggi cenderung menguap dan bergerak ke atas karena berat jenisnya menurun. Tapi, karena di atas lapisan aquifier terdapat lapisan caprock yang juga kedap air, maka uap air terkurung dan membentuk reservoir uap bertekanan tinggi.

Pindah Jurusan masa SMA

Oleh : Tri Budi Yuswantoro


Kalau teman kita Iwan Sams memiliki buku diary waktu di SMA 2 Purwokerto sehingga bisa menggambarkan secara tepat terutama tanggal kejadiannya, saya rasa teman yang lain sebetulnya memiliki banyak juga kenangan.

Hanya saja mungkin secara detail tidak mudah untuk dituangkan ke dalam tulisan. Kalau untuk obrolan saya yakin tidak ada deh selesainya.

Saya mencoba menulis sedikit kenangan yang ada hubungannya dengan perubahan penjurusan dari IPA/ IPS menjadi A1 (Fisika), A2 (Biologi) dan A3 (Sosial). Penjurusan tersebut ditentukan berdasarkan prestasi pada saat kelas 1 SMA.

Waktu kelas 1-4 tahun 1984, saya merasakan bahwa prestasi saya biasa biasa saja, malahan untuk mata pelajaran IPA sangat rendah. Makanya saya tidak heran, begitu naik kelas 2 maka saya masuk jurusan A3 (Sosial), kalau ngga salah 2 Sos 2 (agak lupa soalnya ngga ada diarynya sih).

Saya sih biasa biasa saja, namun ayah saya (almarhum) kurang suka kalau saya masuk A3. Ayah menginginkan saya untuk menjadi tukang insinyur (pinjam istilah si Dul), dan kecil harapan itu terwujud kalau saya tetap di A3.

Berhubung tahun pelajaran 1985/1986 sudah dimulai saya tetap masuk di kelas 2 Sos 2. Saya sudah mendapatkan pelajaran Sosial dan berkenalan dengan anak anak 2 Sos 2. Sampai pada suatu hari (lupa juga, kayanya hampir sebulan atau beberapa minggu lah), saya diminta pihak sekolah untuk pindah di kelas A2 (Biologi).

Saya tidak tahu persis apakah ayah saya yang mengurus kepindahan itu, karena hal itu tidak saya tanyakan dan saya cuek (menurut) saja. Sejak itu saya pindah di kelas 2 Bio 3 yang kelasnya terletak di sebelah barat lapangan sepak bola (kalau ada yg pelajaran olah raga kita bisa melihat he he he).

Singkat cerita , walaupun saat ini bidang tugas saya jauh dari jurusan Biologi malahan benar benar bidang Sos, tapi saya tidak menyesali te lah masuk jurusan itu. Malahan saya harus bersyukur ada hikmah yang dapat diambil dari peristiwa itu (semoga bisa saya ceritakan).

Hanya saja saya harus minta maaf ke ayah karena tidak bisa memenuhi keinginan beliau menjadi insinyur, tapi beliau mengerti kok.

Kutipan Diary masa SMA, 9 Maret 1987

Waduh, bertahun-tahun telah berlalu tanpa terasa,

Kebetulan hari Minggu lalu aku bongkar-bongkar gudang. Lho, kok si hitam nongol. Si hitam adalah julukan yang aku berikan untuk buku diaryku semasa SMA dulu. Kubuka-buka, dan akupun tenggelam dalam nostalgia panjang masa SMA.

Karena sudah berpuluh tahun berlalu, biarlah kubagikan saja untuk teman- teman di milis ini. Siapa tahu yang juga sama doyannya berbagi denganku.

9 Maret 1987
Hallo hitam selamat malam. Pagi tadi, seperti biasa kami upacara bendera. Aku sudah tidak lagi menjadi petugasnya waktu masih kelas 2 dulu. Udah pensiun. Apalagi sebentar lagikan aku ujian terakhir buat Ebtanas, dan kemudian Sipenmaru. Wah, mau kemana ya setelah lulus SMA nanti. Maunya sih ke ITB Bandung, tetapi rangkingku di kelas cuma rangking 5. Bagaimana tuh ?

Tadi pagi ada pembagian hadiah perlombaan yang diadakan untuk memperingati HUT SMA 2, almamaterku tercinta yang ke 37. Wah, aku bersekolah di sekolah tua juga ya ?

Kejadian menarik hari ini adalah kedatangan dua orang teman masa kecilku waktu SD dulu. Aku kan pernah sekolah dua tahun, kelas IV dan kelas V SD di Purwokerto yaitu di SD Purwokerto Kulon III. Nama temanku itu Puguh (sekarang sekolah di SMA 1) dan satunya lagi Wandi (yang jadi calon guru dan sekolah di SPG Negeri).

Wanti dan Puguh sore tadi datang dan bercerita bahwa teman-teman SD Purwokerto Kulon III angkatan 1981 (lulus) tanggal 28 Maret 1987 akan mengadakan reuni pertama. Kan sudah enam tahun lewat. Demikian kata mereka. Wah, aku sih Oke saja, sembari membayangkan beberapa teman yang tentunya sudah remaja semua.

Namun setelah mereka pulang, baru aku sadari bahwa aku belum tentu bisa hadir soalnya tabrakan dengan jadwal Bimbingan Test ku di Neutron Club. Kan itu penting juga. Apalagi ada Try Out segala. Jam 19.00 tadi malam, Puguh telepon katanya ada rapat di rumahnya Sri
Pangastuti. Aku tidak bisa hadir soalnya ada PR yang belum kuselesaikan.

Gimana ya ? Datang apa tidak ya ? Reuni selalu penting bagiku. Karena tentu menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Apalagi kalau ketemu Ragil yang pernah gelut denganku pas kelas IV SD. Kabarnya dia cuma sekolah sampai lulus SD dan memilih bekerja sebagai tukang becak sambil nyambi jadi buruh bangunan. Sudah kawin pula.

Ah, nasib orang ya ?

=========================

Nah, itu salah satu kutipannya. Nanti kukutipkan cerita soal guru-guru, soal sekolah dan sebagainya. Asyik juga. Ada tokoh-tokoh lain tentu saja : Wiko, Hardiyanto, Yuddy Flatus, dan lain sebagainya termasuk para mantan pacar, hahahaha .....