Kamis, 17 April 2008

Cerita kumpul-kumpul Minggu, 6 Januari 2008

Pada 6 Januari 2008, beberapa bulan lalu, The Deltu's Club mengadakan pertemuan silaturahmi awal tahun di rumahnya Kusumo Wibowo (Bowie) di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sejumlah wajah baru alumni SMA Negeri 2 Angkatan 1987 hadir pada kesempatan tersebut meramaikan suasana, diantaranya Agus Supriyono (Fis-1) dan Lilis Maryati (Bio-4).

Foto-foto berikut diambil sesaat setelah pertemuan usai dilaksanakan. Saya datang dengan pasukan lengkap. Maksudnya membawa anak dan isteri karena kebetulan baru saja pulang dari Bandung menengok ayah mertua saya yang sedang sakit keras.


Pertemuan kali ini dikemas dalam doa bersama awal tahun, dan Bowie beserta keluarga mengajar serta sejumlah anak yatim piatu untuk ikut serta dalam acara. Ada siraman rohani segala. Sayang, saya datang terlambat karena memang perjalanan Bandung - Jakarta - Depok cukup jauh sehingga baru sampai di tempat acara pada pukul 13.00 WIB.

Saat datang saya disambut sosok tinggi besar berkumis yang sungguh saya lupa namanya. Namun akhirnya Bowie mengenalkannya sebagai Agus Supriyono, yang sekelas dengan Wikan Wiratsongko, sohibku.

Di dalam ternyata sudah ada Alfina beserta anak-anaknya. Alfina sekarang memakai jilbab dan tampak lebih anggun dan dewasa.

Wikan Wiratsongko juga datang membawa serta isteri dan anak semata wayangnya. Wah sudah gede dia. Terakhir ketemu dengan puterinya Wikan ini masih bayi.

Selain itu, ada teman-teman lain seperti Herry Drajat, Niken, Nina,
Asep Adiyani, Eko Priyanto dan Hardiyanto yang jauh-jauh datang dari Cikarang. Beberapa pertemuan sebelumnya Yanto - begitu panggilan akrabnya -- absen. Tapi kali ini datang lengkap dengan anak dan isterinya. Kita ngobrol panjang lebar seraya menghabiskan kue-kue dan penganan yang sudah disediakan tuan rumah. Lebih dari cukup rasanya.

Giliran pertemuan berikutnya adalah Nuriana di Bekasi yang baru saja pulang dari tanah suci (naik haji) atau kalau tidak bisa kemungkinan Makhsun akan ditunjuk menjadi tuan rumah alternatif. Nanti akan dibicarakan lagi kapan pertemuan selanjutnya. Seusai pertemuan kita kemudian berfoto bersama di depan rumahnya Bowie yang terletak di Kebagusan itu, tidak jauh dari rumah pribadinya mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri. (Laporan : Iwan Samariansyah).

Kumpul-kumpul di Kalibata Mall

SETELAH melalui perbincangan di milis berhari-hari, pada Kamis malam, 17 April 2008 terselenggara juga acara kumpul-kumpul sejumlah anggota The Deltu’s Club. Memang, rencana semula untuk mengadakan olahraga futsal terpaksa dipending, berhubung kita tidak kebagian lapangan untuk bermain futsal. Baik jam 19:00 WIB maupun jam 20:00 WIB sudah dipesan oleh pemain lain.

Saya datang ke Kalibata Mall sekitar pukul 19:07 WIB, ngebut dari kantor yang berlokasi di Rawamangun memakai sepeda motor. Tadi sempat ragu-ragu, mau menggunakan busway, KRL ataukah mobil menuju ke lokasi pertemuan. Ada dua meeting yang harus saya ikuti di kantor. Dan selesai pas saat azan Maghrib berkumandang. Arloji saya menunjukkan pukul 18:15 saat saya siap berangkat ke Kalibata.

Saya fikir mustahil saya tiba tepat waktu bila menggunakan moda transportasi lain. Akhirnya saya putuskan menggunakan sepeda motor. Ini kendaraan paling cepat yang bisa mencapai lokasi, dan paling tepat menembus kemacetan lalu lintas pada jam-jam pulang kantor di Jakarta yang padat saat itu. Dan tampaknya dugaan saya benar adanya. Setelah masuk ke lokasi parkir, saya segera bergegas menuju lantai 2.

Saya naik menggunakan travelator yang terletak di samping Giant Supermarket, langsung menuju meeting point yang terletak di lobby Mall Kalibata. Akupun sampai di depan restoran Pizza Supermarket, tak satupun makhluk kutemui di tempat itu. Terbersit sedikit kekhawatiran, jangan-jangan pada masih terjebak macet saat ini. Segera kukirim SMS pada Adjib, Asep dan Yus.

Kabar dari Yus melegakan. ”Hayo ke sini Wan. Sudah ada lima orang nich yang datang. Kita kumpul di restoran Solaria. Dari Pizza Hut lurus saja, ketemu JCO lantas belok kanan,” ujar Yus di telepon pada saya. Sayapun segera bergegas mencari restoran yang dimaksud. Dan ternyata restoran itu sudah kelewatan saat saya menuju ke lobby Mall tersebut tadi ! Sayapun segera masuk ke restoran yang cukup besar itu.

Suasana restoran cukup ramai. Ruangannya juga luas sekali. Dan di pojok restoran, sejumlah pria menyambutku dengan senyum lebar : Tribudi Yuswantoro (Yus), Makhsun Al Makky (Max), Adiyani (Asep), Hardiyanto (Yanto) dan satu lagi, waduh, aku ndak tahu namanya. Penasaran deh. Orang baru semacam inilah yang selalu membuatku selalu ingin datang pada setiap pertemuan demi pertemuan Deltu Club.

Belakangan aku tahu, pria tegap yang memakai peci ala pak Haji itu adalah Darno. Dia abdi hukum, seorang polisi yang bekerja di lingkungan Polda Metro Jaya. Sesaat perbincangan kami menyinggung soal tilang polisi dan pembuatan SIM. Darno nyengir. Tetapi dengan senang hati dia melayani topik tersebut. Tak lama kemudian menyusul datang ke tempat pertemuan adalah Adjib Al Hakim, Sujangi dan Eko Priyanto.

Kamipun segera memesan sejumlah makanan dan minuman pada petugas restoran Solaria. Aku memilih cappucino dingin, sama dengan pilihan Makhsun. Makanannya snack saja. Teman-teman lain, ada yang memesan nasi goreng, ayam goreng dan sejumlah makanan lainnya. Sembari makan, mulut kami tak henti berceloteh dan saling bertanya kabar teman-teman yang lain.

Kebetulan Asep membawa dua buah buku data alumni 1987. Buku fotokopian itu membantu kami mengingat sejumlah teman lama yang pernah akrab bertahun lalu. Bahkan aku sempat menelepon Slamet Iwandito (Udit), salah satu teman seangkatan yang tinggal di Bandung. Dia sangat gembira dihubungi kawan-kawan lamanya. Di Bandung, selain Udit, ada pula Kasid dan Hartini. ”Sesekali kita ngumpul di Bandung yukh,” ujar Asep, yang seperti biasa, teman yang paling heboh berceritera.

Kami ngobrol di Solaria sampai sekitar pukul 21:00. Kami mesti berhenti, karena restoran harus tutup. Meski demikian, penasaran karena tak bisa main futsal, kami menuju lantai 3 mall tersebut untuk melihat lapangan futsal tersebut. Wah, ternyata menarik juga. Di situ kami sudah ditunggu oleh Herry Drajat Setiawan yang terlambat datang karena ada urusan di kantornya yang tak bisa dia tinggal.

Foto-foto yang diambil dengan kamera handphone dapat teman-teman lihat di halaman ini. Memang kualitas gambarnya tidak terlalu bagus, tetapi lumayanlah sebagai tombo kangen. Terbetik ide untuk menggelar pertemuan yang lebih khusus. Menginap, misalnya. Untuk mengisi kegiatan positif keluarga di masa liburan.

Apalagi Makhsun Al Makky, teman kita ini adalah profesional yang berkecimpung dalam dunia outbond training bersedia untuk menyusun acara family gathering. ”Tempatnya di studio kami di Citarik, Sukabumi,” ujar Makhsun, mantap.

Teman-teman cukup antusias mendengar rencana itu. Saya sendiri berminat, dan mungkin akan berencana mengambil cuti bila hal tersebut jadi dilaksanakan. Tentu asyik berkumpul bersama teman-teman dan seluruh anggota keluarganya. Rencananya acara tersebut digelar bersamaan dengan liburan sekolah anak-anak pada Juni atau Juli mendatang.

Kita bersama-sama akan mencoba mengajak sebanyak mungkin alumni untuk bisa mengikuti acara tersebut. Baik yang tinggal di Jakarta, Bandung, Purwokerto maupun kota-kota lainnya. Tujuannya untuk menjalin keakraban dan tali silaturahmi yang sudah sekian lama terputus. Modal untuk mengadakan acara tersebut bisa ditanggung bareng-bareng. Dan saat ini database alumni yang sudah terkumpul sekitar 71 nama.

Untuk membicarakan acara tersebut, maka rencananya akan dilakukan family gathering tanpa menginap di Bumi Perkemahan Cibubur pada bulan Mei mendatang. Selanjutnya dibentuk kepanitiaan untuk mempersiapkan acara lebih matang. Saya berharap rencana ini bisa berjalan dengan baik. Tentu promosi dan informasi harus disebarkan seluas mungkin dan sejelas-jelasnya. (Laporan : Iwan Samariansyah)

Jumat, 11 April 2008

Rencana Kumpul-kumpul Lagi

SETELAH kumpul-kumpul di awal tahun 2008 di rumah Kusumo Wibowo (Bowie) yang mengundang serta sejumlah anak Yatim Piatu, maka itulah pertemuan The Deltu's Club terakhir. Saya belum ada waktu mengupload foto-foto waktu kumpul-kumpul di rumah Bowie itu. Tetapi yang jelas, ada sejumlah muka baru datang. Antara lain Agus Supriyono, yang dulu alumni Fisika 1 dan Lilis Maryati yang dulu alumni Biologi 4.

Nah, rencananya pada Kamis, 17 April 2008 jam 19.00 WIB, kita akan menggelar pertemuan lagi, bertempat di Kalibata Mall, Jl TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

Bertindak sebagai tuan rumah adalah : Makhsun dan bintang tamu : Ajib Al Hakim.

Yang menarik, Makhsun punya ide agar ajang kumpul-kumpul ini kegiatannya lain dari yang lain yaitu berolahraga Futsal. Alamak. Asyik juga. Sayapun mencari-cari foto lapangan futsal di Kalibata Mall, kayaknya sih boleh juga tuh. Mudah-mudahan bisa terlaksana.

Ini pertemuan pertama setelah jumlah keanggotaan The Deltu's Club bertambah secara signifikan. Mungkin yang terdeteksi sudah mencapai angka 50 alumni. Awal yang sungguh menggembirakan. Kita semua bertekad bahwa tahun 2008 ini kita bisa mengumpulkan sedikitnya 100 nama alumni, terutama alamat kontaknya.

Kita berhasil mendapatkan sejumlah nama alumni yang menetap di Purwokerto yaitu Ismurtyadhi, Edi Sukarsono, Rachmat Setyadi serta Sembodo suami isteri. Isteri Sembodo adalah Tina, yang dulu sama-sama alumni Fisika-3, sekelas dengan Tartum dan Ismurtyadhi.

Para alumni yang bermukim di Purwokerto ini punya peran penting dan strategis. Bila para alumni yang merantau di berbagai kota ingin menggelar Reuni Balik Kampung, maka mereka lah yang menjadi panitia penyelenggaranya kelak. Luar biasa bukan ?

Mudah-mudahan paguyuban Alumni Angkatan 1987 ini akan tumbuh besar, sehat dan kuat. Saling bantu, saling dorong. Bila ada teman yang kurang beruntung maka yang lebih beruntung sedapat-dapatnya memikirkan cara untuk membantu sang teman.

Setidaknya itulah cara kita semua menjadi warga negara yang baik. Sekecil apapun sumbangsih kita, pasti bermanfaat untuk negara dan bangsa ini.


Rabu, 09 April 2008

Mommeee ....

SUATU saat ibu saya mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut.

Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi. Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai.

Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini
saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya.

Ternyata, tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat
melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut.

Pakaian ini begitu indah,dan dia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya.

Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang gemetaran dan sedang berusaha mengikat tali blusnya. Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.

Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya ... dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan berharga nya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu.

Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu... With Love to All Mother

Berbahagialah yang masih memiliki Ibu. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya...........

"Lakukanlah yang Terindah dan Terbaik yang Anda dapat persembahkan Untuknya"


Sumbangan Alfina Damayanti, diposting di milis DELTU-Club pada 8 Juni 2007




Jumat, 04 April 2008

Mencari Diri


Setapak demi setapak
Menyusuri jalan-jalan kehidupan
Menghadapi hambatan dan tantangan
Mengarungi samudera penderitaan
Menempuh badai tak kenal lemah

Dihempas alunan perasaan
Kutatap lurus ke depan
mempersiapkan diri
Mencari makna kehidupan
Mencari hakikat hidup diri

Terombang-ambing
Antara cita, cinta dan penghargaan
Demi terciptanya kualitas
Demi wujudnya prestasi diri

Pribadi yang tercinta
Engkau hilang dalam sunyinya diri
Engkau larut bersama arus air

Kugapai tanganku
Kuteriakkan kata-kata tanpa makna
Aku terjerembab tak mengerti

Kutengok sang sosok pribadi di suatu saat
Masa silam yang tlah lama kutinggalkan
Menangis diri merasa bodoh
Tak guna bagi kehidupan kini
Tak siap buat masa depan

Kuingin kembali dan bangkit lagi
Kuingin gemilang dan tumbuh
Kumelangkah
Tersandung aku
Terlalu memang

Tapi tak guna itu semua
Tak pernah ku menemukannya
Akupun ragu
Aku bingung
Berteriak
Merah
Hitam
Putih

Kau
Aku
Mereka
Dia
Semua
Terpana Menatap Dunia

Tapi akhirnya
Aku bertanya sudahkah kau temukan cinta
Cinta dalam arus kehidupan
Cinta manusia, cinta alam semesta
Cinta Tuhan

Entahlah jawabku
Akupun hilang
Dan dunia tetap berputar

Puisi karya : Iwan Sams

(keterangan puisi : puisi ini belum pernah dipublikasikan sebelumnya dan ditulis hanya dalam diary penulis tertanggal Purwokerto, 25 November 1986).

(Keterangan Foto : Foto ini disumbangkan oleh Tartum (kedua dari kanan). Berpose seusai acara perkemahan Pramuka Dirgantara di Wirasaba, Purbalingga. Dalam gambar dari kiri ke kanan adalah : Bayu Priadi Kusumo (adik kelas), Wicaksono Santosa, Hendra (kakak kelas), Freddy Santosa (anak SMA Veteran), iwan sams, Warto MG (anak SMEA), Eko Priyanto, Tartum dan Wikan Wiratsongko). Foto diambil tahun 1986.

Menyapa Teman

Oleh : Wikan Wiratsongko

Halo para sedulur.., sampurasun. Ikutan absenlah, kayane kok tambah rame ya. Kebetulan tadi siang, mas tri telpon aku, di comblang-i sama pak Eko (seorang pejabat penting di dephukham, yang menurut sumber resmi, beliaulah yang meloloskan Budiono menjadi Gubernur BI...halah.!! ;D), dan pak eko ini paling males SMS-an.., katanya gak PD tulisannya jelek...hahaha..sori kang..., "jas merah di dinding, jangan marah just kidding.."

Selamat bergabung mas Tri, kalo teman-teman susah ngurus SPT Tahunan, atau mau ngurus NPWP khususnya yang tinggal di Bekasi, bisa hubungi beliau, karena mas Tri bekerja di kantor pajak Bekasi. Wah makin banyak, lengkap dan menyebar ya alumni SMA 2 yang sudah jadi pejabat. Kayane nek nggawe partai bisa lolos verifikasi nih...

Cerita masa-masa SMA pasti gak ada matinya, puisi-puisi kang Iwan boleh juga...., dia memang beraliran romantisme-sekularisme-jombloisme...hahaha.., maklumlah pada masa itu dia sangat mengagumi dan terinspirasi karya-karyanya Arswendo, Veven SP Wardana, Khalil Gibran, Kho Ping Ho, Enid Blyton, Old Shatterhand, Fredi dan Nick Carter... ;D

Dia memilih tinggal di jalan Mesjid, karena dekat sama Bioskop Garuda.

Wah baru nimbrung kok udah celak2an, bisa2 ntar di cekal sama moderator milis. Tapi gak papa lah, biar tambah rame, biar lebih punya taste..(iklan banget yak..)

Pas tanggal merah maret lalu, kebetulan aku juga ke Purwokerto, cuma bentar sih, karena bawa rombongan keluarga dari Magelang, ceritanya cuma transit semalam, terus bablas lewat pantura. Asyik juga jalan-jalan malam minggu, jam 12 malam masih ramai, jajanan lesehan dan warung masih banyak, juga kebetulan RRI lagi nanggap wayang kulit.

Di sepanjang jalan Sudirman, banyak banget motor-motor, kira-in tukang ojek..., gak taunya anak-anak yang mau trek-trekan, balap-balapan..., wuih macam GP di Sepang.. kayane asyik banget ngetrek dari alun-alun ke arah timur sampai di pertigaan jalan Merdeka...wuing..wuing...wuz..wuz...gedbrakkk....!!!

Purwokerto memang kota yang asyik, masih ramah dan bersahabat. Cuma lebih ramai saja dibanding jaman kita dulu.

Just info aja, kita-kita kan gen 80-an, kali aja pingin nostalgia suasana 80-an, mode 80-an, lagu-lagu 80-an, artis idola 80-an, teman-teman bisa tune-in di acara "zona 80-an" MetroTV tiap minggu malam, jam 22.00-23.00, dan di radio Sonora (promosi-in radio tetangga nih) acara "80-an" tiap Kamis malam, jam 22.00-24.00.

Yuk ah, itu dulu, aku tunggu cela'an yg lain nih..

(Sumber : Milis Deltu-Club, Jum'at 4 April 2008)

Kamis, 03 April 2008

Kutipan Diary masa SMA, 23 Maret 1987

23 Maret 1987
Di halaman sekolah, ikut upacara bendera seperti biasa. Sudah kelas III sekarang, jadi nggak pernah lagi jadi petugas upacara seperti ketika masih duduk di kelas I dan II. Aku baris di bagian belakang sama Imam dan Philip. Ugi, cewek termungil di kelasku juga ikut-ikutan di belakang.

Eh, mendadak dia berbisik sama aku : "Eh Wan, Dan Up-nya itu cakep lho. Katanya si Cinta kesengsem sama dia". Sialan nich anak, rutukku.Menurut Ugi, Cinta suka sama Dan Up, because wajahnya mirip Arjuna. Sialan, sialan, sialan. Aku mengumpat dalam hati.

Usai upacara bendera, masuk ke kelas, jam pelajaran matematika bersama Pak Sam membahas soal-soal pertanyaan. Aku nggak konsentrasi. Masih teringat omongan si Ugi tadi. Duh Tuhan, kok aku jadi pencemburu begini ya? Aku sayang sama Cinta, tetapi Cinta kenapa nggak bisa melupakan Arjuna.

Keasyikan melamun, eh jam pelajaran Pak Sam usai. Dilanjutkan pelajaran agama Islam, Ibu Munjiyah. Wah kalau yang ini kagak berani melamun aku. Bisa gawat. Ibu Mun membahas soal surat-surat hafalan. Wakk, aku lupa nich. Untung surat yang dibahas adalah surat Al Ma'un. Wah kalau ini aku udah hafal sejak SMP. Syukur-syukur.

Kemudian mata pelajaran ketiga Senin itu, masuk ke praktikum Biologi. Jadi kami semua sekelas pergi ke laboratorium Biologi. Topiknya membahas bagian-bagian tubuh manusia. Dan akhirnya hari itu ditutup dengan SR, bahasa Indonesia. Perang lagi dia dengan Endy, Imam dan teman2 yang duduknya di belakang. Hahahaha, SR sampai nyumpah2 tuh sama Endy.

Pulang sekolah, aku mampir ke kelas Cinta dan nganterin dia ke rumahnya. Kami tak bicara banyak. Aku juga nggak nyinggung ucapan Ugi tadi pas Upacara. "Kamu sakit?" ujarku waktu dia turun dari motor.

Dia menggeleng. Aku ngomong begitu soalnya melihat dia agak lesu. "Cuman capek aja," jawabnya, tersenyum tipis. "Ntar telepon ya?" katanya kepadaku sembari melambaikan tangan.

Aku mengiyakan.

Senin sore ini aku ndak ada bimbingan tes di Neutron Club. Aku akhirnya menghabiskan waktu di kamarku sembari mengerjakan PR Matematika. Dan tak lama kemudian Maghrib pun tiba.

Aku ke masjid Baitussalam. Habis Maghrib, aku nelpon Cinta, dan kami ngobrol panjang. Aku menelepon dari telepon umum koin dekat pasar Pekih. Malu kalau ngobrol sama pacar lewat telepon di rumah mbah, hehehe ....

Oh ya, di alun-alun siang tadi rame banget. Rupanya masa kampanye Pemilu 1987 sudah dimulai. Tadi penuh warna kuning. Rupanya Golkar kampanye pertama. Tahun ini untuk pertama kalinya aku akan menjadi pemilih.

Pemilih pemula. Mau pilih apa ya? Ah gimana nanti ajalah. Aku nggak peduli politik. Yang penting belajar dengan baik, lulus dengan nilai baik dan dapat perguruan tinggi negeri bagus. Kalau swasta, aku khawatir orang tuaku nggak sanggup membiayai. Ya Allah, ridhai aku.

Udah ah ngantuk. Met malam hitam.

Catatan :
Cinta dan Arjuna itu bukan nama sebenarnya. Mohon yang faham, simpan untuk diri sendiri saja ya? Terima kasih.