Selasa, 24 November 2009

Pecahan 2000, THP Menteri dan Bank Mutiara


Belum lama ini, bila kita berkendaraan melalui jalan tol, kita akan jarang menerima uang kembalian berupa lembaran Rp 1.000,-. Kasir pintu tol justru mengembalikan sisa tol dengan koin Rp 500,- aluminium.

Memang sejak Maret 2007, Bank Indonesia telah menerbitkan uang kertas (UK) baru, pecahan Rp 2000,- (dan rencananya jg Rp 20.000,-) lalu menarik uang kertas Rp 1000,- bergambar Pattimura untuk digantikan dengan koin baru Rp 1.000,- yang bahan metalnya lebih murah dari koin Rp 1.000,- seri Kelapa Sawit (1993 - 2000). Lalu apa arti perubahan ini?

Ya, tentu saja, dengan terbitnya pecahan Rp 2000, berarti pemangkasan harta atau aset kita dalam mata uang rupiah, menjadi separuh dari daya belinya semula, yang disebut inflasi rupiah! Anda yang tadinya cukup nyaman dengan penghasilan, katakanlah Rp 2 juta/bulan, kini dengan adanya pemangkasan tadi, anda harus menambah penghasilan dua kali lipatnya! Artinya selepas tahun 2009 nanti, penghasilan anda harus siap naik menjadi Rp 4 juta atau sekurangnya Rp 3 juta / bulan bila ingin tetap nyaman seperti hari ini.

Lalu bagaimana dengan rakyat kebanyakan yang penghasilannya kurang dari Rp 1 juta sebulan ? Ya, semakin blangsak..

Berdasarkan sejarah, ketika era Soeharto dulu, uang kertas tertinggi sejak tahun 1968-1991 adalah Rp 10.000,-. Lalu dengan alasan defisit APBN, diedarkanlah uang lembaran Rp 20.000,- seri Cengkeh/Cenderawasi h, tahun 1992. Karena nominal "aneh" ini sukses beredar, maka tak lama kemudian muncul nominal lebih tinggi lagi yaitu Rp 50.000,- bergambar Pak Harto (1993). Dan tidaklah mustahil, bila uang kertas Rp 2.000,- baru ini sukses beredar, maka Bank Indonesia akan menerbitkan uang kertas dengan nominal baru lainnya, misalnya: Rp 200.000,-; Rp 500.000,-, bahkan Rp 1 juta!

Sebab hal itu memang lazim dilakukan oleh Bank Sentral di negara berkembang. Karena ciri khas mata uang negara maju, nominal angkanya hanya tiga digit saja, seperti USA $100, Arab Saudi 200 riyal, Eropa 500 euro, Inggris 100 poundsterling; kecuali Jepang dan Korea Selatan dengan 10.000 yen dan 10.000 won, sebagai sisa sebuah trauma ekonomi pasca Perang Dunia II.

Dengan ditariknya pecahan Rp 1.000,- maka otomatis uang receh terkecil adalah Rp 500,-. Sedangkan koin pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- akan lenyap dengan sendirinya, rusak atau dicuekin. Hal ini lazim terjadi pasca terbitnya uang baru, ketika pecahan Rp 1,- dan Rp 2,- lenyap pada tahun 1975, sepuluh tahun kemudian Rp 5,- dan Rp 10,- lenyap di tahun 1985, lalu Rp 25,- dan Rp 50,- lenyap di tahun 1995. Kini pada 2009 ini pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- sudah kehilangan daya belinya. Rakyat dieksploitasi untuk memacu kegiatan ekonominya, dan dipaksa merelakan hilangnya sebagian jerih payah mereka.

Perhatikan akibatnya. Bila tadinya sebutir telur ayam negeri seharga Rp 10,-/butir di tahun 1975, lalu naik menjadi Rp 100,-/butir di tahun 1985, maka pemegang uang rupiah telah kehilangan asetnya 1 digit dari Rp 10,- ke Rp 100,-. Artinya si pemegang uang kertas harus mencari sepuluh kali lipat lebih banyak lagi lembaran rupiah agar bisa membeli telur yang sama. Bisa jadi suatu hari nanti harga sebutir telur ayam negeri harus dibayar dengan lembaran Rp 10.000,-/butir, tinggal menunggu waktu saja.

Untuk mengakali inflasi ini, Bank Indonesia cukup menambah angka nol pada uang kertas baru. Inilah riba Zero Sum Game!

Sampai kapan permainan riba ini akan berakhir? Rakyat yang kalah gesit dalam mengimbangi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya dan... tambah blangsaaks, kasihan rakyat miskin.

Di sisi lain, gaji para pejabat tinggi dinaikkan dgn drastis, dan Menkeu telah menyatakan pula bhw dana APBN 2010 siap utk membayar kenaikan tsb. Padahal THP skrg sdh di atas 100 jt, ditambah dana taktis tiap menteri lebih dr 2 Milyar tiap bulan. Penerbitan pecahan uang Rp. 2000 tdk ada pengaruhnya sm skl bagi mereka. Kasihan rakyat miskin...

Menurut data di sebuah TV, andai menteri kita jumlahnya hanya 15 orang, seperti di Amerika, dgn THP yg lama, maka negara akan bs menghemat sedikitnya 7 Trilyun tiap tahun. Laa ini kok malah THP-nya dinaikkan! Blm lagi kalau mengingat outcomes dr para menteri tsb, duuuuh., nyuwun pangapunten Gusti.. Amerika yg segede T-Rex yg urusannya sedunia aja cuma 15 menteri, kita kok bs smp 34 menteri seh?? Gmn tuh Det??

Yg jgn dilupakan jg, pemerintah dengan gampangnya mengucurkan 6,7 Trilyun ke Bank Century, jauh dari angka 1,3 T yg telah disetujui DPR. Salah satu tujuan bailout itu adalah utk mengembalikan dana deposan yg di bawah 2 Milyar. Ironisnya, para deposan dimaksud ternyata tetep saja gigit jari dan menjerit karena dananya ditelan bank yg telah dimanupulasi namanya menjadi Bank Mutiara.

Para penegak hukum terkait terkesan mandul, hanya Robert Tantular saja yg diperkarakan. Ditambah pula dgn DPR yg ogah2an dgn hak angket Bank Century, dgn dalih: menunggu hasil audit BPK (yg skrg dikomandani oleh mantan Dirjen kita).

Buat Sri Gayatri, teruslah berjuang!

Ditulis oleh : Donny Cahyo Nugroho di Milis Deltu

Pantun Deltu by Yuswantoro


Pergi ke Malang naik kereta api

Jangan lupa membawa roti

Biarpun milis deltu sedang sepi

Jangan khawatir selalu kunanti

Makan mie soto di Batu Tulis

Jangan lupa minum teh manis

Biarpun milis jarang ditulis
Tidak membuat hati menangis

BERSAMA DELTU MEMBUAT HATI GEMBIRA

Belajar di Jonggring Seloka Kehidupan


Mencari tempat belajar, saat ini jadi perbincangan hangat. Telaah akademis, yang diletakan pada analisa kualitas, konten, metode, bahkan nilai, menjadi usungan para konsultan pendidikan. Profesi baru yang menjanjikan, melawan kegagalan, kalau tidak mau disebut ’ketidakpedulian’ pada peran sebagai orang tua terhadap anak.


Sama, belajar ngunduh kawruh, pemilihan tempat belajar jadi satu permasalahan. Dimanakah saya harus belajar? Mestikah mencari Jonggring Saloka, ranah tempat bersemayamnya para dewa. Tempat penyucian, penggodokan dan panglebur dosa, kawah Candradimuka, paradoks yang dapat digunakan untuk menghukum dan meleburkan para pendosa dan terhukum, sekaligus menjadi tempat lelaku yang telah melahirkan beberapa satria pilih tanding.


Memang Jaka Tetuka, Sang Gathotkaca, putra Bima dari Ibu Harimbi, begitu lahir langsung diceburkan ke Kawah Candradimuka, digodok bersama lahar dan lava panas yang tidak menjadikannya binasa, sebaliknya malah melahirkannya menjadi satria pilih tanding. Otot kawat balung wesi tan tedas tapak paluning pande tinatah mendat jinoro menter, terbang dengan kutang ontokusumo, pemenggal leher raksasa (buta) dan berjiwa tanpa pamrih.


uga Wisanggeni, putra Harjuna dari Ibu Dersanala. Begitu lahir ia langsung dimandikan air Kawah Candradimuka oleh Narada. Tidak menjadikannya lebur, malah menjadi satria cerdas tanpa batas, sakti tanpa henti, bahkan ludahnya pun dapat menjadi api. Dalam hal ini, bahkan seorang Kresna pun, tak dapat menandingi kecerdasan dan keberanian Wisanggeni.


Apakah petilasan leluhur, beringin kurung, tempat angker yang sepi, gunung dan batu besar, adalah Jonggring Saloka? Atau di dasar samudra, sepertihalnya Bima yang menemukan esensi ke-Dewa Ruci-nya?

Kalau pewayangan adalah simbolisasi metode, seharusnya kawah candradimuka juga tidak dipahami sebagai tempat phisikal. Tetapi visualisasi dan simbolisasi. Suatu tempat untuk belajar, ngunduh kawruh, mengenai jati diri.


Mengapa mesti jauh dengan tapa brata di tempat sunyi. Kalau belajar mengenai esensi diri, tentunya di ’diri’ itu sendirilah tempat belajar sejati. Di tubuh ini, di hidup keseharian kita. Itulah tapa brata sejati. Itulah meditasi sebenarnya. Itulah Jonggring Seloka kita masing-masing.


Dan belajar kesejatian, bukan untuk nyecep ilmunya. Tetapi untuk berproses, saling diskusi, melakukan

refleksi meditatif, mempertanyakan dan mewartakan kebenaran yang berhasil dicari dan dicapainya sendiri-sendiri, untuk kemudian didialogkan. Kebenaran itu hanya kawruh. Kawruh itu adalah yang tergapai, sedang kebenaran tidak pernah tergapai.


Itulah sebabnya, dari Jonggring Saloka-nya hidup ini sendiri-sendiri, akan lahir bukanlah keseragaman, namun keberagaman berdasarkan proses yang dijalani masing-masing. Mengapa kita mesti mempergesekan dengan pertentangan tanpa makna. Atau bahkan tanpa kendali menjadi permusuhan?


Setelah para pencari ngelmu ini turun gunung dari Jonggring Salokanya, kita kembali ke profesi hidup ini. Tidak perlu semua jadi pandhita, jadi pastor, atau jadi kiai, tetapi menjadi diri sendiri apa adanya. Sebagai pedagang, prajurit, penyair, karyawan, pemimpin, dan sebagainya. Namun pedagang, prajurit, penyair, karyawan, ataupun pemimpin yang punya ngelmu yang bisa mensintesakan pelbagai dan segenap kawruhnya. Itulah proses belajar yang sedang saya jalani.

Ditulis oleh : Kris Ade Sudiyono di Milis Deltu

Selasa, 17 November 2009

Kenangan bersama Guru2 Tercinta (2)

saat masih kuliah di UGM, suatu ketika di satu lebaran, saya main ke rumahnya Pak Topo di Tanjung ...

Tak jauh dari garasi Bis Aries. Dan memang dekat dengan budeku tinggal, yaitu Pakde dan Bude Suhud. Bisa dibilang tetangga.

Saya lupa semester berapa waktu itu.

Yang jelas, rumahnya yang dibangun dengan gaji guru dan pinjam bank (berlantai 2) saat itu belum juga selesai dibangun. Bayangkan, mulai dibangun saat kita duduk kelas 2 SMA, dan beberapa tahun kemudian saat saya, anak muridnya, datang bersilaturahmi rumah itu belum juga selesai. "Kurang ragade dik," ujar Pak Topo, agak sedih.

Waktu itu dia memanggilku dik. Aku ikut sedih juga. Mereka, bapak-bapak dan ibu-ibu guru kita itu memang mesti pandai-pandai menyisihkan rejeki agar bisa mendapatkan rumah tinggal yang bagus dan layak ditempati.

Bicara soal guru kita, siapa yang masih ingat Pak Sawino from Sitapen? Pasti banyak cerita mengenai mendiang Pak Sawino. Beliau adalah salah satu guru dimana saya pernah berkunjung ke rumahnya meski beliau bukan wali kelas saya.

Kalau ndak salah, beliau dulu mengajar PSPB ya? Guru Sejarah tepatnya.

Saya ada beberapa cerita menarik mengenai beliau. Tapi nanti ya? Kapan-kapan ditulis.

Ditulis oleh : Iwan sams

Kenangan bersama Guru2 Tercinta (1)

Temans, waktu kita sekolah dulu kan jadwal pelajaran biasanya kita tulis pake kode guru khan?

Aku ingat sekali soalnya masih ada catatannya sampai sekarang.

Misalnya jadwal pelajaran Matematika kita tulis SAM = Sampurna (guru matematika), juga SY = Suyono (guru gambar), atau SD = Sudjiati (guru matematika yang lain), atau SM = Sumarno (guru biologi).

Dan kemudian SR = Siti Rohimah (guru bahasa Indonesia) dan BB = Bambang (guru bahasa Inggris) atau AP = Agus Pitoris (guru Geografi dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa).

Aha, aku mau cerita sedikit cerita lama soal guru kita bernama Pak Bambang yang guru Bahasa Inggris itu.

Kalau dia mengajar kelas kita, masih tensi biasanya agak turun karena pak Bambang ini kan orangnya humoris. Selain itu beliau ini suka sekali dengan artis bernama Marissa Haque. Hehehehe, inget bener sekali saya soal ini.

Selanjutnya sebelum mengajar dia mengedarkan topi, dan kita kudu mengumpulkan uang pengganti ongkos cetak untuk diktat bahasa Inggris yang sudah dia siapkan di meja. Kalau di Fis-2, tugas ini biasanya dijalankan dengan sangat baik oleh Nina yang memang Bendahara kelas. Hehehehe ....

Suatu ketika, topi tersebut mampir ke meja saya. Uang yang harus dikumpulkan untuk membeli diktat adalah Rp 200,-. Sementara uang saya Rp 1.000,- jadi mestinya masih ada kembalian Rp 800,- nah persoalannya sewaktu sang topi berjalan, ada anak lain yang juga butuh kembalian. Jadi waktu topi itu sampai ke meja saya, maka tak ada lagi kembalian yang bisa saya tukarkan.

Terpaksa saya memasukkan uang Rp 1.000,- itu ke topi sembari menelan ludah. Lha, Rp 800 cukup buat beli bakso Bu Dikin dua mangkok jeee ....

Saya ikuti terus topi itu sampai ke belakang tempatnya Imam Wuryanto dan Eko Wilasmono bersarang. Dan topi itu kembali ke depan. Dengan tenang, saya mendekat ke meja Pak Bambang. "Eh mau apa?" kata Pak Bambang memandang saya curiga.

"Anu pak, uang kembalian saya belum saya ambil tadi," ujar saya gugup.

"Wis mengko baen. Tes pelajaran baen yah?" kata Pak Bambang sembari meraup uang yang ada dan memasukkan ke tasnya.

Masalahnya, pelajaran hari itu lumayan berat. Dan sayapun lupa menagih uang kembalian yang Rp 800,- itu. Pak Bambang juga lupa.

Sampai sekarang. Hahahahahaha ......

Tentu saja sudah diikhlaskan saja. Tetapi itu tercatat di salah satu buku harian saya. Rp 800,- kan lumayan .....

Ditulis oleh Iwan Sams di milis deltu


Komentar :
Tri Budi Yuswantoro :


Ben milise tetep rame karo ben mbahe dewek Ki Lurah Iwan Sam dadi seneng monggo putu putune pada ngirim cerita, wakakak. Saya ada sedikit cerita (biarpun dulu pernah saya tulis, tapi mbah kan sudah lupa)paling tidak untuk memancing teman teman untuk bercerita mengenai guru SMA yang bagaimananpun juga telah berjasa sehingga kita bisa hidup seperti sekarang ini.

Pertama dengan Ibu Guru Agama yaitu Ibu Munjiyah. (itu lho ibunya Ajib). Yang pasti kalau ulangan harus tahu penanggalan Islam dan menulis Basmalah/ Hamdallah dengan huruf Arab (sampai sekarang nulis Arab cuma itu doang yang tahu). Selain itu waktu kelas 3 ada tugas lain yang demi mendapatkan nilai, saya paksakan ikut yaitu satu kelas (dibagi beberapa anak) membaca Al Qur’an 30 juz yang dibaca di rumah dalam waktu tertentu.

Terus terang aja bacaan Al Qur’an saya waktu itu baru bisa juz ‘amma itupun baru sampai Alam Nasroh, mana terbata bata lagi he he he. Namun demi nilai dan prestise (emang ada yang ditaksir di kelas he he he), saya menyanggupi juz ke 30. Bagi teman yang sudah lancar baca mungkin sehari dua hari bisa selesai, namun bagi saya butuh waktu lama sekali.

Selang beberapa hari pas pelajaran agama pasti ditanya masing masing anak udah sampai mana. Berhubung saya kalau baca huruf Al Qur’an lama banget, demi menyingkat waktu kebetulan waktu itu ada buku juz ‘amma yang ada huruf latinnya, maka saya baca huruf latinnya itu dan saya laporkan kalau saya sudah selesai membaca juz 30. Wah ketahuan ya kalau bohong he he, tapi benar benar lo saya baca (huruf latinnya).

Waktu itu saya berpikir toh ngga dicek, wong dibaca di rumah (coba disuruh baca huruf Al Qur’annya di depan kelas, bisa malu banget). Jadi kalau sekarang lihat buku juz ’amma yang ada huruf latinnya, jadi inget Ibu Guru Munjiyah, hi hi hi buka rahasia.

Yang kedua dengan Bapak Agus Petoris guru Geografi, guru yang terkenal kocak dan blak blakan bahkan sedikit parno he he he. Justru karena berbau keparno-parnoan itulah makanya ada cerita yang sampai sekarang saya ingat.

Waktu itu kelas 2, seperti biasa beliau mengajar geografi. Topiknya masalah musim dan akhirnya disebutkan bahwa nama nama bulan dalam kalender bisa menandakan saat itu sedang musim apa. Contohnya bulan September artinya sat-satnya sumber (keringnya sumber air = kemarau), Desember artinya gede-gedenya sumber (banyak sumber air), Januari artinya hujan sehari hari dan seterusnya.

Nah sampai saat menerangkan bulan Juli semua terdiam apa artinya. Begitu dijelaskan artinya banyak anak laki-laki yang tertawa, terutama Hendro. Saya sendiri bingung apanya yang lucu, wong biasa biasa aja. Pokoknya yang saya dengar artinya maju-majunya ...... (sensor). Waktu itu saya tidak familier dengan istilah itu (kuper banget ya.

Dijelaskan pula saat bulan Juli memang banyak pengantin baru atau suami istri tambah intim. Saya sih diem aja.

Akhirnya begitu menikah (bulan Mei) saya perhatikan kalau bulan Juli ada apa kok katanya suami istri tambah mesra. Kalau dilihat dari musimnya bulan Juli sedang kemarau kemaraunya dan logikanya udaranya panas. Tapi kenyataannya pada bulan Juli walaupun musim kemarau namun udaranya agak lembab sehingga dingin juga sih. Nah mungkin yang dimaksud Pak Agus dengan udara yang dingin diharapkan suami istri sering dekat dekatan yang ujung ujungnya yaitu arti bulan Juli, he he he ada ada aja nih Bapak Guru.

Anak saya yang pertama lahir bulan April atau sekitar sembilan bulan dari bulan Juli. Apakah ini karena saat bulan Juli saya sedang mempraktekan teorinya Pak Agus? Wallahu alam....

Iwan Sams :

Hehehehe, humor Pak Agus Pitoris itu bikin merah padam lima gelintir cewek di kelasku juga Yus.

Soal bulan Juli itu. Mereka mencak-mencak marah sehabis jam pelajaran pak AP berakhir. "Guru koh saru banget," gerutu Nina kepada Ugi, teman sebangkunya.

Pekerjaan Teman-teman


Iseng-iseng di akhir pekan ini mari kita amati satu persatu Pekerjaan dan Profesi yang dijalani teman-teman kita anggota The Deltu Club.

Kemudian bandingkan dengan masa kita belajar dulu.

Kadang-kadang kita jadi takjub dan heran sendiri ya?

Misalnya ini :

(1) Adjib Al Hakim, sekarang bekerja sebagai tukang insinyur di lingkungan BUMN Pekerjaan Umum

Saat sekolah dulu, yang aku bayangkan tentang Adjib adalah dia akan tumbuh besar menjadi seorang Ustadz (guru agama). Maklum, ngajinya fasih dan perilakunya terjaga. Lagipula dia anak seorang ustadzah pula. Wajar kan kalau yang ada di benak saya seperti itu.

(2) Tribudi Yuswantoro, sekarang bekerja di Kantor Pelayanan Pajak Kota Malang, Jawa Timur - lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Yus yang jago volly saat itu kubayangkan jadi atlit volly nasional. Bertanding di pentas dunia melawan Kuba atau pevolly2 hebat dari Amerika. Kalau bekerja, malah kukira nanti Yus akan jadi seorang dokter spesialis rambut, mengingat rambutnya yang pating kriwil itu, hahaha ...
(eh, ada dokter spesialis rambut ndak sih?)

(3) Tjatur Yuliastuti. Sekarang menjadi Dokter Gigi, dan ahli estetika mulut (pakar di bidang kecantikan).

Saat sekolah dulu, Tjatur yang keibuan itu kubayangkan terjun menjadi perawat di rumah sakit umum. Tersenyum kepada semua pasien dan membuat mereka betah dirawat disana. Hehehe, meleset ya?

(4) Yuddy Setyo Wicaksono. Sekarang Asisten General Manager di PT Indonesia Power, Suralaya, Provinsi Banten, salah satu BUMN anak perusahaan PLN.

Yuddy kubayangkan akan menjadi Insinyur Sipil yang hebat. Membangun berbagai gedung bertingkat di berbagai kota. Nyatanya saat Sipenmaru, Yuddy memilih masuk Fisika Teknik yang aku sama sekali tak tahu lulusannya jadi apa nanti, hehehehe .... ternyata malah Insinyur di lingkungan PT PLN (Perusahaan Lilin Negara).

(5) Imam Wuryanto. Sekarang PNS di lingkungan Departemen Kehutanan di Jakarta.

Ah, Imam betapa degilnya dia saat menggoda Ibu SR, guru bahasa Indonesia. Imam kubayangkan jadi Insinyur bidang mesin. Dia jago ngutak-ngatik mesin kurasa, meski hasilnya motorku tambah mogok bukannya membaik. Wakakakak.

************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* *

Bayangan memang tak selalu sama dengan kenyataan yang ada. Begitu juga aku sendiri, hehehehe .....

Monggoh yang mau melanjutkan. Masih ada lebih dari 450 orang dengan profesi yang macam-macam, bisa dibahas satu persatu, setahun pun nggak akan habis, hahahaha ....


Ditulis Oleh : Iwan Sams di milis deltu


Komentar teman2 :

Tri Budi Yuswantoro :
Trima kasih buat Iwan yang telah memberikan testimoni tentang diri saya. Yach begitulah gambaran Iwan mengenai diri saya. Sebetulnya pekerjaan yang saya jalani saat ini jauh dari cita cita awal saya dan jauh juga dari keinginan orang tua. Walaupun saat naik kelas 2 saya masuk ke A3 tetapi karena orang tua menginginkan saya jadi tukang insinyur akhirnya saya dipindahakn ke A2.

Tetapi apa yang terjadi . . . .? Saat lulus SMA tahun 1987 saya mencoba masuk ke jurusan Arsitektur Undip, sayang tidak terima (mungkin kemampuan terbatas). Sempat menganggur setahun akhirnya saya banting setir belajar mandiri tetapi untuk masuk jurusan A3 dan akhirnya Alhamdulillah bisa masuk sekolah ikatan dinas (baca selengkapnya di www.deltu-club. blogspot. com edisi 31 Mei 2008).

Begitulah perjalanan hidup kadang kita menganggap kegagalan adalah musibah, namun di balik itu ada hikmah yang terbaik buat kita.

Mengenai olah raga sepertinya jauh sekali untuk jadi atlet nasional. Tapi paling tidak untuk ukuran instansi biarpun usia sudah kepala 4 main volly nya tidak kalah dengan bujangan yang usia 25 an, apalagi kalau cuma main ama anak anak SMA itu mah keciill, hahahaha......

Adjib Al Hakim :

Iwan, sori aku baru sempat baca posting ini. Wah bener2 ajaib memang hidup ini, semuanya misteri. Sama spt misterinya jodoh kita masing2 juga misteri. Aku dulu memang membayangkan jadi guru, tepatnya kepingin jadi dosen. Tapi skrg malah jadi orang jalanan, hahaha...
Dan ada teman kita yang jadi dosen, aku terpana saat mendengarnya, siapa dia, Asih..!!! (Rilly Windiasih) Tak pernah terbayangkan dia skrg jadi dosen yg lembut dan disukai mahasiswanya

Deltu emang luar biasa...!!!

Donny Cahyo Nugroho :

Gilee.., ki lurah ini memorinya encer berats.!
Aku smp terpesona ki..

Ttg artikel "Pekerjaan Teman-teman" , aku cumo mo kasih resep aja ki:
1. There can be miracle, when u believe (Mariah Carey + Whitney Houston)
2. U will when u believe (MC n WH)
3. And the new day will dawn, for those who stand long (Led Zeppelin - dr lagu fave-nya alm. Wicak, Stairway to Heaven)
4. What are we become, just look what we have done (White Lion)
5. U are what u think u are (White Donny)

Iqmal Tahir :

Trims Is atas infonya. Gara-gara bu SH dan pak Topo itu lah saya nyasar ke kimia, hehe...

Minggu, 08 November 2009

Bahaya Styrofoam Pembungkus Makanan


Berikut ini pengalaman pribadi Iqmal Tahir menggunakan styrofoam sebagai pembungkus makanan. Sangat berbahaya.

Saat tinggal di asrama yang tidak menyediakan dapur, maka semua pemenuhan kebutuhan dalam hal makan harus diatasi dengan jalan membeli makanan siap saji. Saya lebih suka memilih membeli makanan untuk dibawa dan dimakan di rumah. Kalau dimakan di tempat, dihitung jatuhnya akan lebih mahal karena harus membeli minuman juga.

Terkadang, saya membeli makanan yang dimasak sesuai pesanan. Selain bebas memilih menu, dengan cara ini, pembeli juga bisa mendapatkan makanan yang fresh, barusan diolah dan masih panas. Tetapi justru masalah panas inilah yang ternyata menyebabkan satu permasalahan baru.

Kebanyakan warung membungkus makanan dalam kertas minyak, atau kertas koran yang dilapisi daun pisang. Namun akhir-akhir ini, semakin banyak warung yang memilih menggunakan kemasan styrofoam. terlihat lebih bersih, dan praktis.

Saya pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan dengan makanan dalam kemasan styrofoam. Ceritanya, saya membeli nasi goreng dan telur dadar. Setelah siap, saya melihat makanan yang dipesan dan dikemas dalam dua wadah styrofoam. Setelah saya bayar dan dibawa ke rumah, saya terperanjat begitu membuka tas, karena ada cairan yang tumpah. Dalam bayangan saya, tadi mungkin miring, sehingga ada kuah yang tertumpah. Tetapi kemudian ingat kembali bahwa saya hanya memesan nasi goreng dan telur dadar, darimana cairan ini? Begitu diamati, tampak lebih parah lagi karena ternyata kemasan styrofoam itu berlubang di beberapa bagian karena meleleh. Bahan styrofoam ini ternyata meleleh setelah terkena minyak dari telur dadar yang dimasukkan ke dalamnya pada saat masih panas. Akhirnya karena sudah malam dan lapar tentu saja makanan harus tetap dimakan sebagian saja, yang kira-kira tidak terkena lelehan styrofoam ini.

Iseng lebih lanjut, styrofoam tersebut kalau diperhatikan maka bagian yang meleleh adalah yang memang terkena panas cukup tinggi. Hal ini ditandai pada bagian yang kontak dengan telur dadar. Untuk panas yang tidak cukup tinggi, yaitu pada wadah nasi goreng, ternyta permukaannya juga di beberapa tempat menjadi semacam berlubang dan tidak rata lagi. Hal ini dapat dibayangkan jika telah terjadi lelehan juga walaupun cuma di bagian permukaan saja.

Kemasan styrofoam itu terbuat dari polimer sejenis polystyrene (PS). Kalau di industri, dikenal sebagai plastik dengan kode angka 6. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang terdiri dari komponen monomer styrene. Styren dapat muncul dari styrofoam yang terbakar atau bahkan saat kontak dengan bahan yang masih panas saat terjadi kontak.

Dari beberapa kutipan, diketahui bahwa styrene ternyata sangat berbahaya untuk kesehatan otak, dapat mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah kesehatan reproduksi, pertumbuhan dan sistem syaraf. Styrene adalah bahan yang relatif susah untuk didaur ulang.

Jadi tentu saja dengan pengalaman di atas, maka kita semua harus selektif untuk memilih kemasan makanan. Baik sebagai pembeli maupun sebagai penjual diperlukan kewaspadaan.

Kemasan lain yang terbuat dari plastik juga sebenarnya berbahaya juga, walaupun mungkin tidak seperti styrofoam, tetapi juga harus diwaspadai. Kalau masih bisa menggunakan daun pisang maka lebih dianjurkan, Cuma karena kebutuhannya yang akan sangat besar tentu saja juga akan menjadi kendala lagi. Bisa saja pembeli selalu membawa wadah makanan dari rantang logam stainless atau aluminium, atau dapat juga dari jenis plastik yang lebih aman dan kuat panas. Hanya saja seringkali pembeli juga tidak mau direpotkan dengan membawa rantang ini sebelumnya.

Cara yang lebih dianjurkan tentu saja adalah dengan memperhatikan panas makanan yang akan dikemas, mungkin dibiarkan lebih dingin terlebih dahulu dan setelah hangat baru dimasukkan ke wadah. Cara ini merupakan pilihan yang paling mungkin diterapkan bagi warung-warung makan. Hanya saja pembelinya diminta lebih sabar lagi untuk menunggu makanannya jadi lebih dingin.

Pada akhirnya tentu saja kita sendiri yang harus memilih, bagaimana caranya untuk dapat selalu hidup sehat. Termasuk dalam hal penggunaan styrofoam dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ditulis Oleh Iqmal Tahir pada http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1091