Senin, 07 September 2009

SMA Negeri 2 Purwokerto: Mungkin Memang Penuh Hantu




Cukup sering muncul dalam banyak kesempatan, terutama saat kita nongkrong dalam suasana malam tertentu, yang kemudian kita mengkategorikannya sebagai ‘crita-crita medeni’ (serem). Walaupun itu kisah-kisah medeni boleh dibilang hanya milik masa remaja saja, tapi ada beberapa subyek yang kemudian menjadi cukup menarik buat aku untuk membuat suatu riset pribadi othak-athik gathuk yang barangkali mampu memberi penjelasan, sedikit atau banyak tentang apa yang melatar-belakangi sebuah cerita serem.

Dalam tulisan ini aku menuju SMA Negeri 2 Purwokerto. Dimana aku lebih dari duapuluh tahun dulu belajar. Sekolah tersebut kondang angker. Demikian paling tidak yang aku dengar dari kakak-kakakku yang juga bersekolah di sana banyak tahun sebelumnya. Meskipun waktu itu kakak-kakak tersebut juga kaum remaja cekikikan yang jelas distortif dalam memblow-up suatu desas-desus. Yang aku dengar begini, bahwasanya ketika murid-murid berkegiatan yang menyempatkan mereka harus menginap di sekolah, akan muncul kegaiban yaitusuara-suara seperti derap kaki bersepatu militer. Bersumber dari satu titik, dan melangkah sepertinya berjalan sepanjang susuran lantai depan-depan kelas. Kadang, katanya bolak-balik. Dan ‘tentara’ hantu itu dikatakan sebagai tentara bule.

Dalam suatu kegiatan, pernah juga aku melewatkan malam di sekolah. Tapi tiada kudengar seupilpun kehebohan tentang derap tentara hantu. Penjelasan sementara, mungkin di tahun 80an suasana jauh lebih terang disbanding tahun 60an, sehingga hantu-hantu males muncul. Tapi yang jelas, tetap saja banyak orang menggaris-bawahi bahwa SMA Negeri 2 Purwokerto itu angker punya. Penuh hantu tentara bule.

Ayahku selepas HIS pernah bersekolah di gedung SMA Negeri 2 tersebut. Namun ketika itu adalah jaman Belanda dan sekolah tersebut adalah MULO, setaraf SMP. Kata beliau, lapangan sepakbola di depan gedung sekolah adalah yang terbaik di Poerwokerto. Dibangun dengan rancangan yang benar untuk sebuah lapangan sepak bola. Dengan alas batu yang diratakan, pasir sebagai pori serapan air dan tanah tipis untuk wahana rumput tumbuh. Namun nasib lapangan itu berakhir tragis di jaman Jepang. Dimana ketika Jepang mengokupasi Poerwokerto, gedung sekolah dipakai sebagai tempat interniran sementara, gudang logistik, dan lapangan bola dipakai sebagai tempat parkir kendaraan tempur. Ancur jadinya. Karena itu adalah truk, mobil lapangan, atau lapis baja (punya Jepang kecil saja tapi bagaimanapun rantainya tetap membajaki tanah yang dilalui).

Dari cerita ayah tersebut, aku coba simpulkan bahwa dalam situasi interniran itulah kasus-kasus penyiksaan yang berujung kematian mungkin saja terjadi. Jepang terkenal kejam dalam menyiksa tawanannya, paling tidak itu yang ada dalam benak remaja ku. Kesan yang diperoleh dari film-film Perang Dunia 2 serta cerita-cerita orang dulu yang penuh distorsi. Kelak ketika aku makin tua, aku pikir ternyata apa yang aku coba simpulkan waktu itu meleset cukup jauh dari implikasi sesungguhnya. Begini, dalam peperangan, untuk menjadi kejam harus ada kemarahan atas suatu alasan. Jepang begitu kejam terhadap POW di Balikpapan dan Ambon karena dalam proses penaklukkannya tentara-tentara Australia (kebanyakan yang berani adalah anak-anak Australia) melawan dengan gagah berani dan mengabaikan ultimatum-ultimatum Jepang untuk tidak membumi hangus berbagai fasilitas. Korban tentara Jepang menjadi banyak, melahirkan dendam teman-temannya yang masih hidup. Sehingga ketika Ambon jatuh, contohnya, serdadu-serdadu sekutu yang tertawan diperintahkan menggali lubang besar di dekat lapangan terbang. Kelar menggali mereka disuruh berlutut sambil menundukkan kepala, serdadu Jepang yang mahir dengan pedangnya lalu menebasi kepala-kepala tawanannya dengan cukup satu tebasan untuk satu kepala. Enam orang serdadu Jepang menjagal lebih dari tiga-ratus POW sekutu. Mayat-mayat disepak kedalam lubang yang mereka gali sendiri beberapa saat sebelumnya.

Tetapi rasanya tidaklah sesangar itu yang terjadi di Jawa Tengah. Jepang yang kemudian menduduki Jawa Tengah adalah mereka yang mendarat di pantai Kragan (sebelah timur Rembang). Mereka utamanya adalah mengamankan Cepu yang banyak minyak. Hampir-hampir tidak ada perlawanan. Dalam tempo ukuran jam saja mereka menggilas Blora. Cepu, lalu ke Ngawi dan terus ke barat. Lancar-lancar saja. Seperti kalau kita bepergian sehari-hari. Dalam dua hari saja Kebumen sudah jatuh. Dan keesokan harinya, Purwokerto. Penaklukan yang santai ini tidak membuahkan watak-watak buas. Sehingga kesimpulan akan perlakuan tidak manusiawi terhadap POW yang diinternir sementara di gedung SMA 2 kurang pas. Lalu dari mana datangnya hantu-hantu bule penasaran tersebut?

Jawaban yang kuanggap cukup akurat kutemukan di tahun 2008. Inilah satu kisah nyata dari rekoleksi tentara sekutu:

Dengan begitu beratnya bombardier Jepang atas Tjilatjap, maka harapan kami untuk kabur dengan kapal melalui kota pelabuhan tersebut makin pudar. Oleh karena itu sekitar 2500an serdadu sekutu yang masih berjubel di Poerwokerta, sekitar 30 mil utara Tjilatjap, yang sebagian besar adalah elemen dari RAF dan RAAF yang sudah tak bersenjata, punya gagasan untuk bergerak ke barat, ke sebuah landasan udara di Tasikmalaja, Sebuah kota 50 mil tenggara Bandoeng.

Senja hari 6 Maret 1942, dua rangkaian KA disiapkan di Poerwokerta (melihat dari rutenya kemudian, besar kemungkinan rangkaian-rangkaian ini dipersiapkan di stasiun timur dan kemudian diberangkatkan juga dari situ. Sekitar seratus meter ke timur dari rumah tempatku dibesarkan - eng) Rangkaian-rangkaian yang terdiri dari beberapa gerbong penumpang dan sejumlah gerbong barang. Rangkaian yang pertama mengangkut bensin oktan tinggi untuk pesawat terbang, sejumlah onderdil pesawat, dan dijubeli manusia juga. Rangkaian ini dikomandani oleh Wing Commander (Mayor Udara) Ramsay Rae. Pukul 19:00 mereka berangkat dengan tujuan Maos yang tidak jauh dari kali Serajoe, yaitu titik pertemuan dengan jalur KA utama selatan. KA kedua yang berangkat dua jam kemudian dipimpin oleh Wing Commander N. Cave. KA ini dengan segera mengekor KA terdahulu yang sarat beban sehingga berjalan merayap. Ada sekitar 600an orang di kedua KA. Sekitar pukul 22:15, kurang lebih 7 mil dari Maos, kira-kira di Sampang, KA pertama di hadang oleh Jepang, Resimen Infantri ke 56, pasukan pelopor yang mendarat di Kragan, yang melaju secepat kilat dan sudah mencapai titik tersebut. KA dihujani mortar, senapan mesin dan granat. Beberapa gerbong barang segera dibuat terguling anjlok dari rel. Dua penumpang tewas seketika sementara banyak yang lain terluka parah. S.H. Adcock dari 152 MU (medic unit) mengenang, “Kami sedang melaju menyusuri perkampungan dan beberapa membuka pintu gerbong untuk dapat memperoleh angin segar, saat itulah penghadangan terjadi. Gerbong di depan kami meledak dihantam peluru, seorang serdadu muda di dekat pintu yang tadinya mengobrol denganku tewas seketika terkena tembakan tepat di antara dua matanya. Masinis dan juru api ketakutan melompat meninggalkan lokomotip melaju tanpa awak. Gerbong-gerbong dibelakang yang memuat bensin berkobar-kobar dashyat. Di gerbong depan ada seorang serdadu yang sebelum perang adalah pernah menjadi juru api di perusahaan KA LMS, melihat lokomotip ditinggalkan masinisnya, dia lalu melembar ke loko tanpa awak itu dan mengemudikannya hingga kehabisan uap karena ketel loko tersebut juga berlubang-lubang diterjang peluru.”

Sementara itu KA kedua yang terpaksa berhenti karena terhadang rongsok gerbong-gerbong KA pertama, juga dihujani tembakan. Lokomotip kena dan rusak. Korban berjatuhan di gerbong dan gerobak yang penuh orang. Fl./Off. J. Fletcher-Cook mendapat perintah untuk melanjutkan ke Maos dengan harapan memperoleh KA bantuan guna mengangkut yang terluka. Kelompok lain terdiri dari 74 orang termasuk banyak yang luka-luka, dipimpin Flt./Lt. G. Carr mencoba bergerak menuju Sampang namun jatuh ke tangan patroli Jepang dan menyerah. Lima dari yang luka-luka tewas.

Jepang tidak memaksakan serangannya dan mundur masuk ke pepohonan. Mungkin karena itu hanya pasukan pelopor yang kecil kekuatannya. Beberapa kelompok yang selamat lalu menyusur rel ke selatan. Setelah berjalan kurang lebih tiga mil mereka sampai di perkampungan yang ditinggalkan penduduknya. Mereka berkumpul di tempat itu dan diberi tahu bahwa tak jauh adalah jembatan Kali Serajoe. Mereka segera menyeberang. Tujuh orang yang luka paling parah ditinggalkan di gubuk dekat rel dengan ditunggui dua kesehatan dengan anjuran jangan kemana-mana hingga bantuan tiba.

Jembatan Kali Serajoe di Kesoegihan memiliki lima bentang dan ada jalur untuk orang berjalan di samping rel. Tentara KNIL yang bertugas menjaga jembatan waktu itu telah menyiapkan peledak guna penghancuran yang akan dilaksanakan tepat tengah malam dimana makin dekat waktunya. Lanjut Adcock, “Ketika aku dan beberapa sahabat sudah tinggal dua bentang lagi dari tepi tujuan, jembatan diledakkan, bentang tengah langsung runtuh ke sungai menewaskan banyak orang.”

Yang paling celaka adalah mereka yang luka-luka sehingga lambat bergerak dan belum sempat menyeberang jembatan. Kopral Bob “Butch” Finning dari RAF Skuadron ke-84 adalah salah satu dari yang luka parah itu. “Aku ada di sebuah bangunan gudang. Darah bersimbah dimana-mana, rekan-rekan mengerang, beberapa memang begitu parahnya dan sedang sekarat. Lalu aku mendengar jeritan dan teriakan-teriakan dari sebelah luar. Ternyata Jepang berdatangan. Mereka membayoneti yang sedang bergeletakan di lantai. Kukira ajalku telah tiba. Aku bergelung miring merapat ke rekan yang ada terdekatku supaya tusukan bayonet hanya menhunjam bokong dan paha saja. Jeritan kematian teman-teman sungguh menyayat. Sama menyayatnya dengan jeritan tentara Jepang yang menghunjam bayonet. Ketika mereka memeriksaku, aku berpura-pura tewas.”

Finning dibayonet puluhan kali namun ajaibnya tiada luka yang fatal. Lanjutnya, “Gudang itu cukup gelap, aku pelan-pelan mencoba bangkit di antara tumpukan yang tewas. Kudengar Jepang masih ada di luar sehingga aku menggeletak berpura mati lagi. Mereka kemudian masuk dan menusuki lagi yang bergelimpangan di situ. Aku kebagian juga. Sekarang kupikir matilah aku.” Ketika patroli Jepang tadi pergi, Finning punya 14 luka tusukan tapi hebatnya dia bertahan. Saat keadaan aman, dia merangkak mencapai jendela dan bergulir keluar ke semak-semak. Dia lalu pingsan. Saat sadar, hari sudah terang. Meski sakit luar biasa dari luka-lukanya dia mampu beringsut-ingsut menjauh dari arena pembantaian dan sampai di sungai. Sekuat tenaga dia berusaha menyeberanginya meskipun dia sudah sangat lemah karena darah banyak keluar. Ketika tengah terbaring kelelahan luarbiasa, beberapa penduduk situ menghampiri. Dia kemudian diseret dibawa ke kampung mereka. “Aku digebugi habis-habisan. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menyelesaikanku. Leherku dijerat. Mereka hendak menggantungku. Aku sudah tak peduli apapun. Tali mereka lumpatkan di cabang pohon, lalu menghelanya menarik tubuhku ke atas. Entah karena berat badanku atau cara kerja mereka yang tidak benar, sehingga beberapa kali jerat terlepas dan aku jatuh kembali ke tanah. Ketika kali keempat mereka menghelaku lagi, dan aku yakin kali ini habis sudah peruntunganku, lidahku sudah terjulur, semua sudah serba berputar dan dunia sudah gelap, terdengar ada mobil datang, dan aku jatuh lagi ke tanah. Kudengar bentakan keras dan orang-orang pada bubar, saat itu samar-samar aku melihat ada orang aneh sedang mengayun-ayunkan pedangnya yang panjang, Pikirku, mereka memutuskan tidak menggantung tapi memenggalku saja.”

Nampaknya perwira Jepang ini adalah penyelamat hidup Finning. Dia sudah dapat dua serdadu Inggris yang terluka dan kini dia membebaskan belenggu Finning kemudian menggotongnya ke mobil. Ketiga serdadu Inggris yang luka parah tersebut diangkut ke Poerwokerta ke tempat interniran POW sementara, dimana sudah dijubeli orang-orang Belanda.

Tempat itu adalah sekarang SMA Negeri 2 Purwokerto.

Tidak hanya tiga orang itu saja yang sedang terluka parah yang sampai di penampungan POW sementara. Ada banyak. Dan hampir seluruh dari yang luka parah itu akhirnya tewas. Situasi begitu kacau, tidak ada yang sungguh-sungguh mampu untuk mengingat akan apa yang terjadi di sekitar tanggal 7 hingga 11 Maret 1942. Demi mencegah gangrene, mereka yang tewas harus segera dikuburkan. Lubang-lubang digali di sekitar penampungan. Untuk kubur. Yang masih ketahuan rekan-rekannya, beruntung karena masih diupacarakan sederhana dan diingat dimana lokasi penguburannya kelak ketika perang selesai. Tapi yang masih dalam sekapan interogasi Jepang, atau karena sebab lain tidak teridentifikasi rekan-rekan sesama POW, dan Jepang menemukannya maka ia akan dikubur begitu saja tanpa administrasi yang cukup. Mereka-mereka inilah yang memenuhi daftar MIA (Missing in Action), tiada ketahuan dimana kuburnya. Dan apabila ada beberapa dari mereka dikubur secara serampangan di sekitar SMA 2, dimana hal itu mungkin sekali terjadi dengan melihat paparan di atas, maka dapat aku simpulkan bahwasanya arwah-arwah penasaran, tentara-tentara bule yang prok-prok-prok kesana-kemari di sepanjang lorong-lorong SMA Negeri 2 Poerwokerto itu adalah elemen-elemen dari RAF (Royal Air Force) atau RAAF (Royal Australian Air Force) yang di hadang Jepang di Sampang – Kesoegihan malem tanggal 7 Maret 1942. Satu fragmen tragis PD II yang terjadi di kampung halamanku.

Dalam perang besar,

kaum remajalah yang paling diperalat.

Di garis depan, dibalut rindu dan nestapa,

merangkul sahabat dalam sekarat.

Yang ketika mati ruhnya bingung.

Tak tahu dimana berada.

Tak ada yang dapat ditanyai.

Maka mereka lalu kian-kemari.

Mencari dan mencari…

ditulis oleh: Engky


Komentar :
Adjib
Hiiii... Engky ceritanya selalu menarik disimak.
Buat teman2 yang lain, nggak perlu takut hantu. Semakin kita berani, semakin takut hantu mengganggu kita, pissssss....

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Medeni temen ya kang sejaraeh, ujarku anu mitos doang. soale seumur-umur gemiyen pas esih sekolah nang SMA 2, nek aben kegiatan wengi urung tau sih diweruhi hal2 kaya kuwe hiiiii . .

Unknown mengatakan...

medeni temen ya kang sejaraeh. jebule anu ana kedadean temenane yaa. tapi seumur-umur aku sekolah nang sma 2 mbiyen, Alhamdulillah aben ana kegiatan wengi ora tau diweruih utawa dirungon-rungon hal2 gaib kaya kuwe.

William mengatakan...

Saya bersekolah di sman2 purwokerto. Saya pernah melihat apa yang anda tulis. Barisan tentara mondar mandir di depan sekolah sekitar jam 3 pagi. Selain itu saya juga pernah melihat "lainnya" di bangsal dan nagian lain sekolah